FBI Konfirmasi Tewasnya Pelaku Bom Bali

Amanda Puspita Sari/Reuters, CNN Indonesia | Kamis, 02/04/2015 16:00 WIB
FBI Konfirmasi Tewasnya Pelaku Bom Bali Serangan polisi untuk memburu Marwan berubah menjadi tragedi karena tidak dirundingkan dengan MILF. (Getty Images/Jeoffrey Maitem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Biro Investigasi Federal Amerika Serikat, atau FBI pada Rabu (1/4) mengkonfirmasi bahwa Zulkifli bin Hir, yang dijuluki sebagai salah satu "teroris paling dicari" dan dalang di balik bom Bali telah tewas dalam serangan di Filipina pada bulan Januari lalu.

Diberitakan Reuters, sumber yang dekat dengan penyelidikan menyatakan bahwa FBI dapat mengkonfirmasi kematian Zulkifli atau dikenal juga dengan Marwan, melalui analisis DNA dari sejumlah jarinya yang dipotong oleh pihak berwenang Filipina. (Baca juga: FBI: Hasil DNA Menunjukkan Pelaku Bom Bali Tewas di Filipina)

Potongan jari Marwan diambil ketika pasukan Filipina bentrok dengan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) dan sempalannya, Pejuang Kebebasan Islami Bangsa Moro (BIFF) di provinsi Mindanao yang menewaskan 44 petugas polisi pada Januari lalu. Serangan itu mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung selama tiga tahun.


Potongan jari tersebut kemudian diangkut ke AS untuk dicocokkan dengan sampel DNA salah satu saudara kandung Marwan. Hasil penyelidikan menunjukkan kedua DNA tersebut cocok.

Sebelumnya, Departemen Luar Negeri AS sempay menawarkan uang sebesar US$5 juta untuk menangkap Marwan, yang merupakan anggota kelompok militan Jemaah Islamiyah yang berafiliasi dengan al-Qaidah di Malaysia. Marwan juga diduga bertanggung jawab atas serangkaian serangan bom di Filipina dan bom Bali tahun 2002 silam.

Pejabat kontra-terorisme Filipina mengatakan Marwan melarikan diri ke pulau Mindanao tahun 2000, ketika pemerintah Malaysia menindak militan Islam setelah mengungkap sebuah organisasi al-Qaidah di Singapura, Malaysia dan Indonesia.

Tiga tahun lalu, militer Filipina melaporkan Marwan tewas dalam serangan udara. Namun, secara tak terduga Marwan muncul kembali pada tahun lalu di Mindanao, di bawah perlindungan BIFF.

Januari lalu,  polisi mengkonfirmasi kehadiran Marwan di Desa Pedsandawan dan militer langsung membuat rencana penyerangan untuk memburu Marwan, yang diberi kode operasi ‘Exodus’, melibatkan ratusan anggota polisi.

Serangan polisi untuk memburu Marwan itu, berubah menjadi tragedi. Saat melakukan penyerangan ke BIFF, polisi tidak melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan MILF yang berada dalam perjanjian gencatan senjata dengan pemerintah. Pertempuran, akhirnya terjadi antara polisi, BIFF dan MILF.


Dalam sebuah pernyataan, David Bowdich, asisten direktur yang bertanggung jawab di kantor FBI di Los Angeles menyatakan bahwa pihaknya telah menghapuskan Marwan dari daftar "teroris paling dicari" dan mengucapkan terima kasih kepada polisi Filipina.

"Sekali lagi, FBI mengungkapkan belasungkawa yang tulus kepada petugas Angkatan Aksi Khusus Filipina yang kehilangan nyawa mereka ketika mencoba untuk menangkap buronan yang berbahaya ini dengan gagah berani," bunyi pernyataan dari Bowdich. (ama/stu)