Setelah Deklarasi, Palestina Minta Dukungan Nyata dari KAA

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 20/04/2015 15:47 WIB
Deklarasi dukungan terhadap kemerdekaan Palestina menjadi salah satu dokumen penting dalam KAA, namun menurut Menlu Palestina, itu saja tidak cukup. Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al-Maliki, berharap ada wujud nyata dukungan kemerdekaan bagi negaranya dalam Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika di Jakarta Convention Center, Senin (20/4). (CNN Indonesia/Hanna Azarya Samosir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Deklarasi dukungan terhadap kemerdekaan Palestina menjadi salah satu dokumen penting yang dibahas dalam Konferensi Asia Afrika yang dihelat pada 19-24 April di Jakarta dan Bandung. Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al-Maliki, berharap hasil dari diskusi ini tak hanya sekadar deklarasi, tapi juga aksi konkret.

"Kami sudah sering mendengar deklarasi dukungan sejak lama. Malapetaka bagi Palestina terjadi sejak lama setelah Israel melakukan pendudukan. Saya sangat ingin melihat, setelah pernyataan dukungan, kita akan mencari jalan keluar untuk menerjemahkan pernyataan tersebut ke dalam rencana kerja nyata yang membantu Palestina untuk melihat masa depan cerah dan dengan cepat menyelesaikan pendudukan Israel," ujar al-Maliki di sela Pertemuan Tingkat Menteri dalam gelaran Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika di Jakarta Convention Center, Senin (20/4).

Dalam penjabarannya, al-Maliki mengaku percaya bahwa kekuatan aliansi internasional dapat memukul mundur pihak-pihak yang menjegal langkah Palestina untuk menuju kemerdekaannya. Al-Maliki lantas menjabarkan bagaimana upaya Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk membuat resolusi kemerdekaan bagi Palestina dijegal oleh salah satu negara.


"Kami gagal karena Amerika Serikat mengintervensi dan menekan satu negara untuk mengubah pilihannya, yaitu Nigeria. Hasilnya, Nigeria telah menghukum presidennya yang berani tidak mendukung Palestina dan ia kalah dalam pemilu," tutur al-Maliki.

Dengan pengalaman tersebut, al-Maliki yakin bahwa kekuatan konferensi internasional dapat membantu Palestina meraih kemerdekaannya.

"Mungkin sekarang kita harus kembali ke Dewan Keamanan dan mencari resolusi lain yang dapat mengakhiri pendudukan Israel. Mungin konferensi internasional yang dapat mendorong Israel untuk dibelenggu dengan hukum internasional dan mengakhiri pendudukan dan memberikan kemerdekaan kepada Palestina," kata al-Maliki.

Lebih jauh lagi, al-Maliki juga memberikan opsi jalan keluar lain yang mungkin harus didiskusikan oleh negara-negara peserta KTT Asia-Afrika sebagai wujud nyata dukungan terhadap Palestina.

"Kita harus mulai bicara tentang sanksi kepada Israel karena melanggar hukum internasional dan melukai hak asasi Palestina. Saya percaya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan jika kita memiliki keberanian untuk melakukannya," kata al-Maliki.

Deklarasi Palestina ini merupakan salah satu dari tiga dokumen yang dibahas dalam KTT Asia Afrika. Selain Deklarasi Palestina, KTT Asia Afrika juga akan menghasilkan dokumen Bandung Message dan Reinvegorating The New Asian African Strategic Partnership. Ketiga dokumen tersebut kini tengah dibahas dalam Pertemuan Tingkat Menteri untuk kemudian dibahas di tingkat kepala negara pada 22-23 April.

Rangkaian acara peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika ini dihelat pada 19-24 April. Pertemuan tingkat pejabat tinggi sendiri diselenggarakan di Jakarta pada 19-23 April. Pada 24 April seluruh perwakilan negara akan bertolak ke Bandung untuk melakukan prosesi napak tilas KAA.

Konferensi Asia Afrika pertama kali diselenggarakan pada 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung. Pertemuan ini diadakan dengan tujuan mempromosikan kerja sama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, dan negara imperialis lainnya. (stu)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK