Hidup terombang-ambing di laut selama tiga bulan sepertinya bisa membuat siapa saja menjadi gila. Apalagi ditambah tidak ada makanan dan minuman yang memadai, pun tidak ada pengawasan dari petugas keamanan, kekerasan menjadi hal yang sangat lumrah
Hassan mengatakan, luka lebam di wajahnya akibat dihajar dengan besi oleh warga Bangladesh yang juga berada di kapal yang dia tumpangi. Menurut mantan penghuni kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh ini, pembunuhan terhadap warga Rohingya di atas kapal sering terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengungsi Rohingya lainnya, Abdur Rosyid, mengatakan pengungsi Bangladesh berjumlah banyak dan semuanya terdiri dari lelaki. Sementara Rohingya ada perempuan dan anak-anak yang juga tidak luput dari kekerasan.
Pengungsi asal Bangladesh berencana menjadi pendatang ilegal untuk bekerja di Malaysia. Sementara bagi Rohingya, perjalanan panjang dan berbahaya dengan kapal didasari ketakutan di kampung halaman, untuk mencari tempat tinggal yang aman tanpa diskriminasi.
"Mereka juga memukul wanita dan anak-anak yang berisik," kata pria 48 tahun ini.
Untuk menghindari pembunuhan, beberapa warga Rohingya melompat ke laut dan berenang ke perahu lainnya. Hassan mengatakan ia mendengat lima warga Rohingya dibunuh di ruang mesin kapal. Banyak yang tewas tenggelam karena tidak bisa berenang.
Hassan bercerita ada beberapa kapal yang ditumpanginya menuju Thailand, yang lalu berakhir di perairan Aceh.
"Saat mereka datang untuk membunuh kami, banyak yang melompat. Jika tidak bisa berenang akan tenggelam, yang tidak melompat bisa dibunuh. Saya berenang ke perahu lainnya hanya berpatokan dari cahaya kapal," ujar Hassan.
Beruntung, kapal baru yang ditumpangi Hassan lebih aman dari kekerasan.
"Yang menguasai kapal ini adalah para nelayan Bangladesh. Dia berkata: 'Jika ada yang berkelahi saya lempar kelaut'," lanjut Hassan.
Setiap harinya, minuman dijatah. Hassan mengatakan, sehari mereka mendapatkan tiga kali minum air dengan takaran sekitar 3 cm dari gelas. Makan dua kali sehari, pagi dan sore dengan nasi dan ikan kering.
Menurut catatan dinas kesehatan, saat ini ada 677 pengungsi di Kuala Langsa. Ini belum ditambah pengungsi asal Rohingya dan Bangladesh di beberapa tempat lainnya di Aceh. (stu)