Presiden Mesir Kecam Polisi dan Kritik Pemerintahnya

Reuters, CNN Indonesia | Senin, 08/06/2015 00:43 WIB
Presiden Mesir Kecam Polisi dan Kritik Pemerintahnya Presiden Mesir al-Sisi mengecam polisi dan pemerintahnya karena kritik pelanggaran hak asasi manusia dan proyek pembangunan yang tidak berjalan. (Reuters/Muhammad Hamed)
Kairo, CNN Indonesia -- Presiden Mesir Abedl Fattah al-Sisi mengecam polisi dan mengkritik pemerintahnya setelah para pengkritik menuduhnya membiarkan pelanggan hak asasi manusia menjamur dan tidak berbuat banyak untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Banyak warga Mesir mendukung Sisi karena menciptakan stabilitas yang relatif setelah terjadi kekacauan selama beberapa tahun menyusul pemberontakan rakyat 2011 yang berhasil menyingkirkan Hosni Mubarak.

Namun, pengkritik mengatakan Sisi mengembalikan Mesir ke tangah pemerintahan diktator dan tidak berbuat cukup dalam meningkatkan perekonomian yang hancur.


Pada Minggu (7/6) Sisi, mantan kepala staf angkatan bersenjata yang menyingkirkan pemimpin terpilih pertama Mesir Mohamed Mursi pada 2013, menjawab kritik tersebut.

Dalam acara peluncuran proyek-proyek infrastruktur yang didukung militer, Sisi mengatakan: “Saya mengatakan kepada seluruh putera kita di kepolisian atau badan pemerintah, sadarlah kalian berhubungan dengan manusia.”

Pernyataan ini dilaporkan oleh kantor berita pemerintah, MENA.

Para pegiat mengatakan polisi, yang kekuasannya menurun setelah Mubarak jatuh, kini bertindak dengan kejam. Tuduhan yang dibantah oleh Kementerian Dalam Negeri.

“Saya meminta maaf kepada setiap warga Mesir yang menjadi korban pelecehan apapun. Saya bertanggungjawab atas segala hal yang menimpa warga Mesir,” kata Sisi.

Tetapi dia tidak menjabarkan rencana yang jelas untuk mengatasi masalah itu.

Sejak menyingkirkan Mursi, Sisi telah membubarkan militan Islamis yang telah membunuh ratusan tentara dan polisi.

Sejumlah pegiat sekular juga dipenjara karena melanggar hukum yang melarang aksi demonstrasi. Pihak berwenang membantah melakukan pelecehan, dan Sisi menyebut Ikhwanul Muslimin adalah ancaman terhadap keamanan nasional.

Pada Maret, Sisi memecat menteri dalam negeri yang berperan besar dalam operasi penggerebekan terhadap Ikhwanul Muslimin.

Pengadilan baru-baru ini menyidangkan kasus dimana polisi dituduh membunuh warga sipil, termasuk seorang perempuan yang sedang merayakan pemberontakan rakyat 2011. Sementara seorang pendukung Mursi ditahan di rumah sakit, dan seorang pengacara diduga disiksa hingga tewas di satu kantor polisi.

Pada Minggu, seorang pegnacara dijatuhi hukuman penjara tiga bulan karena memukul pengacara dengan sepatu ketika bertikai.

Persidangan yang jarang terjadi ini menimbulkan harapan bahwa polisi, yang menurut kelompok hak asasi manusia melakukan penyiksaan secara luas ketika Mubarak berkuasa, akan lebih dimintai pertanggungjawaban.

Sisi mencoba mendorong perekonomian dengan proyek-proyek infrastruktur. Tetapi meski sejumlah proyek seperti pembangunan kanal Suez kedua akan berjalan sesuai jadwal, proyek lain tampaknya terlambat. (yns)