Malik menyebutkan bahwa ada risiko ekstremisme di Indonesia, seperti halnya di Inggris dan hampir semua negara di seluruh dunia.
"Ini masalah yang tidak bisa diatasi sendiri, jadi harus kerja sama antara negara-negara sahabat," ujar Malik di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (19/6), setelah bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya juga berharap Indonesia bisa menjadi contoh bagi negara lain, karena ada banyak negara yang belajar cara Indonesia untuk kendalikan risiko (ekstremisme) itu dengan lebih tepat," kata dia.
Selain berbincang soal ekstremisme, pria keturunan Pakistan ini juga mengaku telah berbicara dengan Presiden Jokowi tentang hubungan bilateral antara Indonesia dan Inggris, serta beberapa ide untuk memperdalam dan mempererat hubungan kedua negara, khususnya dalam bidang bisnis, investasi, isu maritim, dan pendidikan.
"Jadi kami berdiskusi bagaimana Inggris bisa mendukung rencana Bapak Presiden untuk pembangunan Indonesia," kata Malik.
Tak hanya berbincang urusan bilateral kedua negara, Malik yang seorang Muslim menyempatkan diri untuk menjalankan ibadah salat Jumat bersama Presiden Joko Widodo di Masjid Baiturrahim yang terletak tepat di samping Istana Merdeka.
Namun, ketika ditanya apakah dalam pertemuan itu membahas soal seorang wanita asal Inggris yang menjadi terpidana mati kasus narkoba, Lindsay Sandiford, Malik enggan memberi komentar.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan bahwa kedatangan Malik sekaligus untuk membahas rencana kunjungan Perdana Menteri Inggris David Cameron ke Indonesia pada akhir Juli 2015 mendatang.
(ama/ama)