Bocoran Dokumen WikiLeaks, Banyak yang 'Mengemis' ke Saudi

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Minggu, 21/06/2015 13:34 WIB
Bocoran Dokumen WikiLeaks, Banyak yang 'Mengemis' ke Saudi Arab Saudi disebut melakukan diplomasi buku cek dengan memberikan bantuan ke banyak orang dengan berharap balasan dari penerima. (Ilustrasi/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kekayaan Arab Saudi yang berlimpah karena minyak kerap dimanfaatkan banyak orang dari berbagai negara, dan sebaliknya, kemakmuran ini juga dimanfaatkan Saudi untuk menerapkan diplomasi balas budi.

Hal ini terbukti dari berbagai dokumen diplomatik Saudi yang dibocorkan oleh WikiLeaks Jumat lalu. Diberitakan New York Times, Sabtu (20/6), terlihat dalam dokumen beberapa orang "mengemis" meminta bantuan dari Arab Saudi.

Di antaranya adalah permohonan bantuan dari Mohammed Mursi sebelum menjadi presiden Mesir yang meminta dipermudah urusan visanya agar bisa keluarganya bisa umrah.


Ada juga politisi Lebanon yang meminta bantuan uang untuk membayar upah pengawal, terungkap dalam kabel diplomatik antara Saudi dan Lebanon.

Seorang politisi Kristen Lebanon, Samir Geagea, bahkan meminta uang untuk membantu partainya, Lebanese Forces, yang tengah dalam masalah finansial. Dalam suratnya, Geagea terlihat tanpa malu meminta bantuan uang karena selama ini dia selalu mendukung Saudi dalam menentang pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah.

Geagea mengaku telah menunjukkan "kesiapannya untuk melakukan apa pun yang diminta Kerajaan (Saudi)." Surat ini belum dikonfirmasi oleh juru bicara Geagea.

Ada lagi permintaan bantuan sebesar US$2.000 dari sebuah kantor berita di Guinea untuk "menyelesaikan banyak masalah yang dihadapi."

Dalam salah satu dokumen, Saudi juga pernah memberikan 2.000 visa umrah bagi Ayad Allawi, politisi Irak rival dari Nuri al-Maliki, perdana menteri Irak saat itu. Dalam dokumen itu, Saudi mendukung Allawi yang menentang Nuri, pemimpin Syiah.

Diplomasi buku cek

Abdulkhaleq Abdullah, professor ilmu politik di Uni Emirat Arab mengatakan bahwa ini adalah bukti bahwa Saudi menerapkan diplomasi buku cek, atau diplomasi utang budi. Dengan memberikan bantuan, Saudi berharap mendapatkan balasan dari penerima.

Menurut Abdullah, tidak ada yang mengejutkan dari tindakan Saudi ini. Hal serupa, ujar dia, juga dilakukan oleh banyak negara termasuk Amerika Serikat dan China.

Selain itu, lanjut Abdullah yang telah membaca 100 kabel Saudi, tidak ada dokumen tersebut yang membahayakan keamanan negara. "Tidak ada yang mengejutkan sehingga membahayakan keamanan Saudi," ujar Abdulla.

Beberapa dokumen juga menunjukkan upaya Saudi membentuk pemberitaan media, baik dalam dan luar negeri. Salah satunya adalah desakan pemerintah terhadap penyedia layanan televisi satelit untuk memblokir tayangan dari Iran.

Pada dokumen tahun 2012, Kerajaan Saudi meminta media untuk "tidak mengekspos kepribadian Rusia dan menghindari menyakiti mereka agar tidak merusak kepentingan kerajaan."

Perintah ini disampaikan usai dilakukan pertemuan antara Saudi dan Rusia terkait krisis di Suriah. Rusia saat itu adalah negara utama yang mendukung Assad dan selalu memveto resolusi PBB soal Suriah.

WikiLeaks membocorkan lebih dari 600 ribu dokumen diplomatik Arab Saudi dan akan membeberkan setengah juta dokumen lainnya dalam beberapa pekan mendatang.

Dibeberkannya dokumen itu pada Jumat sekaligus menandai tiga tahun pendiri WikiLeaks mendapatkan suaka di Kedutaan Besar Ekuador di London untuk menghindari ekstradisi ke Swedia agar bisa diadili atas tuduhan kejahatan seks.

Pemerintah Arab Saudi langsung bereaksi dengan memperingatkan warganya untuk tidak turut menyebarkan dokumen-dokumen yang menurut mereka "bisa jadi palsu". Bagi warga Saudi yang menyebarkan dokumen WikiLeaks maka akan dikenakan dakwaan kejahatan siber. (den)