Warga Lokal Temukan Salinan Al Quran di Pulau Reunion

Ranny Virginia Utami, CNN Indonesia | Sabtu, 08/08/2015 14:31 WIB
Warga Lokal Temukan Salinan Al Quran di Pulau Reunion Dibantu oleh warga setempat, polisi lokal Pulau Reunion menyisir pulau untuk mencari kepingan pesawat MH-370. (REUTERS/Jason Lee)
Saint-Denis, CNN Indonesia -- Salinan Al Quran yang ditulis dengan bahasa Jawi--tulisan Arab yang digunakan di Brunei dan Malaysia-- yang telah dilaminating menjadi temuan paling baru yang diserahkan warga lokal kepada tim penyidik, demikian diberitakan The Telegraph, Jumat (7/8).

"Mungkin ini berasal dari teks Al Quran Malaysia, Indonesia atau Brunei, yang mayoritas warganya adalah Muslim," ujar seorang wartawan Malaysia saat ditanyai wartawan lokal tentang buku plastik ini.

"Mungkin juga berasal dari Mondanao di Filipina. Namun, faktanya, bisa saja berasal dari negara Muslim manapun," lanjutnya.


Saat ini polisi lokal Pulau Reunion membantu upaya pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang sejak Maret 2014 lalu melalui patroli darat. Dibantu oleh warga sekitar, puing-puing yang diduga berasal dari pesawat nahas ini dikumpulkan dan diserahkan kepada tim penyidik internasional untuk diteliti lebih lanjut.

Keluarga Korban Ingin ke Pulau Reunion

Menjamurnya temuan puing memicu keresahan dari kerabat dan keluarga korban pesawat berpenumpang 239 orang ini. Mereka mendesak kepada pihak yang berwenang untuk dibawa ke lokasi puing ditemukan.

Meski menurut juru bicara pemerintah Australia belum ada temuan puing baru yang diduga berasal dari MH370, keluarga korban tetap merasa ingin melihat temuan tersebut untuk memastikan sendiri.

"Saya ingin melihat apakah koper anak laki-laki saya ada di sana," ujar Lu Zhanzhong, yang anak laki-lakinya menjadi korban pesawat. Ia melalukan aksi protes di depan Kedutaan Malaysia di Beijing dan menuntut agar bisa pergi ke Pulau Reunion untuk melihat kebenaran temuan puing pesawat.

Begitu pula dengan Hu Xiufang yang memiliki tiga kerabat yang menjadi penumpang pesawat. "Tuntutan kami adalah pergi ke Pulau Reunion dan melihat dengan mata kepala kami sendiri. Semua keluarga korban ingin pergi ke sana," ujarnya.

"Malaysia adalah negara yang bertanggung jawab atas hal ini dan mereka harus memperoleh dokumen yang relevan," ujar Lu menambahkan.

Zhang Jianyi, yang anak perempuannya menjadi penumpang pesawat nahas tersebut, juga mengatakan akan pergi ke Pulau Reunion. "Kami semua akan pergi ke sana bersama-sama. Itu yang perlu disepakati oleh komunitas internasional. Dan Malaysia adalah negara yang relevan untuk mengatur hal tersebut," ujarnya.

Sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari pihak Malaysia. Hal ini membuat keluarga korban kecewa.

"Mereka menolak mengirimkan perwakilan untuk bertemu dengan kami. Saya tidak tahu apa yang pemerintah Malaysia takutkan, atau apa yang sebenarnya mereka sedang sembunyikan," ujar Jiang Hui, yang ibunya juga berada di dalam pesawat MH370.

Wali Kota Saint Andre mengatakan semua kerabat korban yang akan datang ke Pulau Reunion akan diterima dengan baik dan diperlakukan layaknya tamu kota.

"Mungkin ini bisa membantu mereka mengobati pedih karena kehilangan keluarga," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah kota sedang merancang pembangunan sebuah monumen peringatan bagi korban pesawat.

Perancis mengirim patroli dan personel tambahan ke area pencarian. Mereka memperluas upaya pencarian puing MH370 sejak Jumat (7/8) kemarin dengan tambahan sejumlah helikopter, sebuah pesawat terbang yang berpatroli di atas perairan pulau Reunion, dan beberapa perahu yang memeriksa perairan.

(vws)