Polisi dan beberapa analis keamanan telah mengangkat kemungkinan koneksi bom Bangkok ke Uighur—minoritas Muslim di China yang berbahasa Turki. Kaum Uighur mengeluhkan penganiayaan dan diskriminasi oleh Beijing.
Perlakuan China Uighur merupakan masalah penting bagi banyak orang Turki, yang menganggap mereka secara umum berbagi latar belakang budaya dan agama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kemungkinan ada lebih banyak warga Turki yang datang ke Thailand dari jumlah itu. Kami menyelidiki kelompok yang mungkin telah datang ke sini,” kata Prawut, menanggapi apakah polisi telah menyelidiki 15 warga Turki.
"Kami memeriksa, tapi tidak 15 orang," kata Prawut, menambahkan bahwa polisi tidak tertuju pada kelompok atau kebangsaan.
"Kami tidak fokus pada kewarganegaraan tetapi individu," ujarnya, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Bukti utama yang dimilki polisi terkait ledakan di kuil Hindu Erawan adalah rekaman kamera keamanan.
Rekaman itu menunjukkan seorang pria dengan baju berwarna kuning terang dan rambut gelap masuk ke kuil dan meletakkan ransel di pagar kuil lalu berjalan menjauh dari tempat kejadian sebelum ledakan terjadi.
Dua belas dari 20 orang yang tewas dalam serangan hari Senin, 17 Agustus lalu adalah orang asing, termasuk warga negara Indonesia, China, Hong Kong, Inggris, Malaysia dan Singapura.
Anthony Davis, seorang analis keamanan dari IHS-Jane yang berbasis di Bangkok, berbicara di Foreign Correspondent Club of Thailand, Senin, mengatakan, ada beberapa "kemungkinan pengelompokan" yang memiliki motif dan kemampuan untuk melakukan serangan.
Yang paling mungkin, pelaku pemboman adalah anggota militan dari organisasi ekstrem kanan Turki yang disebut Grey Wolves. Motif mereka, menurut Davis kemungkinan adalah balas dendam atas deportasi etnis Uighur ke China oleh Thailand.
“Persoalan Uighur adalah sesuatu yang besar bagi mereka,” kata dia. Davis juga menyatakan bahwa Grey Wolves berada di barisan depan saat protes massa di depan Konsulat Thailand di Istanbul bulan lalu. (stu)