Ayah Korban Penembakan Virginia Dukung Reformasi UU Senjata

Amanda Puspita Sari/Reuters, CNN Indonesia | Jumat, 28/08/2015 03:47 WIB
Ayah Korban Penembakan Virginia Dukung Reformasi UU Senjata Insiden penembakan yang menewaskan wartawan WDBJ7, Alison Parker dan juru kamera Adam Ward dilakukan oleh rekan kerja mereka, Bryce Williams saat siaran langsung, Rabu (26/8). (Reuters//WDBJ7/Handout))
Jakarta, CNN Indonesia -- Andy Parker, ayah dari Alison Parker, wartawan TV yang menjadi korban penembakan saat siaran langsung di Virginia, Amerika Serikat, mendukung reformasi undang-undang yang mengatur kepemilikan senjata di negara itu.

Sehari setelah penembakan, Parker mendesak anggota federal dan parlemen negara bagian untuk segera mengambil tindakan soal pengendalian senjata, terutama berupaya menjauhkan senjata api dari warga yang kondisi mentalnya tidak stabil.

"Saya tidak akan tenang sampai saya melihat perubahan terjadi. Para anggota parlemen dan kongres harus berhenti menjadi pengecut dan berbuat sesuatu," kata Parker, dikutip dari Reuters, Kamis (27/8).


Parker menyatakan bahwa Asosiasi Senjata Nasional mungkin akan berpendapat bahwa putrinya dan Ward akan aman jika mereka mempersenjatai diri sendiri.

"Tidak akan ada bedanya. Berapa banyak Alison yang harus tewas sebelum kita menghentikan hal ini?," ujar Parker.

Menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, terdapat sekitar 34 ribu kematian karena kekerasan dengan senjata api pada 2013. Jumlah ini hampir dua-pertiga dari jumlah kematian karena bunuh diri di tahun yang sama.

Sarah Trumble, penasihat kebijakan senior untuk Third Way, lembaga think tank yang berbasis di Washington, menilai bahwa kemungkinan reformasi UU pengendalian senjata akan sulit lolos, mengingat sebagian besar Kongres merupakan pejabat Partai Republik yang menentang pandangan tersebut. Kondisi ini tidak akan berubah, meskipun pemberitaan media gencar melaporkan soal penembakan di Virginia.

Trumble menyatakan bahwa reformasi pengendalian senjata kemungkinan besar dapat diterapkan di tingkat negara bagian, bukan di tingkat federal.

Reformasi undang-undang pengendalian senjata kerap merebak setelah serangan penembakan yang sudah berkali-kali terjadi di Amerika Serikat. Diperkirakan, lebih dari 32 ribu warga tewas karena senjata api di AS.

Dorongan reformasi UU senjata di tingkat federal terakhir kali terjadi menyusul penembakan di sekolah dasar Sandy Hook di Newtown, Connecticut, pada Desember 2012, menewaskan 26 orang.

Presiden AS Barack Obama telah berupaya untuk memperketat kepemilikan senjata di AS, dengan mendukung rancangan undang-undang yang mengharuskan pemeriksaan latar belakang untuk pembeli senjata dan melarang penjualan senjata serbu.

Meski demikian, RUU itu ditolak oleh Senat AS pada April 2013.

Setelah insiden penembakan wartawan di Virginia, Obama menegaskan Amerika Serikat perlu "berupaya lebih baik untuk memastikan bahwa orang-orang yang memiliki masalah seharusnya tidak memiliki senjata."

Obama menyebut penembakan itu "menyedihkan" dan "satu bukti mengapa kita perlu mengurangi kekerasan dengan senjata di negara ini."

Insiden penembakan terjadi saat wartawan WDBJ7, Alison Parker, 24 dan juru kamera Adam Ward, 27 melakukan siaran langsung untuk segmen program berita pagi di Bridgewater Plaza, sebuah tempat perbelanjaan dan rekreasi di dekat Moneta, Bedford County, Virginia, pada Rabu (26/8) pukul 6.45 pagi.

Pelaku penembakan, Vester L. Flanagan, atau yang dikenal dengan Bryce Williams, merupakan rekan wartawan korban, yang sempat bekerja di stasiun TV tersebut. Flanagan melepaskan tembakan enam hingga tujuh kali dan terekam dalam kamera.

Parker dan Ward tewas dalam serangan tersebut, sementara sang nara sumber Vicki Gardner dilarikan ke rumah sakit.

Flanagan mengaku melakukan penembakan ini karena merasa terdiskriminasi akibat berkulit hitam dan gay. Flanagan mengklaim bahwa Parker pernah melontarkan kalimat rasis, sementara Ward pernah melaporkannya ke HRD.

Ketika penembakan terjadi, Flanagan sempat merekam aksinya dan menggunggahnya ke media sosial Twitter dan Facebook. Flanagan juga sempat mengirimkan curhatannya melalui faks kepada ABC News, terkait alasan penembakan ini.

Tak lama setelah penembakan, Flanagan tewas akibat menembak dirinya sendiri. (ama/ama)