Jepang Ajukan Anggaran Pertahanan Terbesar Selama 14 Tahun

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 31/08/2015 16:12 WIB
Jepang Ajukan Anggaran Pertahanan Terbesar Selama 14 Tahun Guna memperkuat pertahanan di Laut China Selatan, Jepang melakukan latihan militer bersama pasukan Filipina pada Mei lalu. (Reuters/Romeo Ranoco)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pertahanan Jepang tengah mengajukan anggaran militer tahunan terbaru untuk meningkatkan keamanan di kepulauan di Laut China Selatan, sangat dekat dengan wilayah yang diklaim oleh Beijing.

Dalam dokumen yang diserahkan pada Senin (31/8) tersebut, kementerian meminta kenaikan anggaran sebesar 2,2 persen menjadi 5,09 triliun Yen atau setara sekitar Rp589,6 triliun mulai awal pembukuan pada April depan. Jika disetujui, anggaran pertahanan Jepang ini merupakan yang tertinggi selama 14 tahun belakangan.

Dana tersebut akan digunakan untuk membeli kapal amfibi AAV7 rakitan BAE Systems, pesawat F-35 Stealth dari Lockheed Martin Corp, dan pesawat baling-baling rakitan Boeing Co.


Sebagian anggaran juga akan dialokasikan untuk pembelian pesawat nirawak Global Hawk dari Northrop Grumman Corp, baterai rudal, helikopter, dan perkakas kebutuhan militer lain untuk menjaga pulau yang terbentang 1.400 kilometer dari Jepang ke Taiwan.

Selain itu, anggaran tersebut juga akan digunakan untuk membangun dan memperluas basis militer di sepanjang pulau.

Seperti dilansir Reuters, anggaran militer terbesar tahun ini masih dipegang oleh Amerika Serikat, disusul China dengan peningkatan 10,2 persen menjadi 886,9 triliun Yuan.

Sejak kekuatan militer China berkembang pesat, Jepang mulai mengintensifkan pertahanan di perbatasan utara dari ancaman Rusia dengan menurunkan tank dan senjata berat serta pasukan ke sekitar Laut China Selatan dan Pasifik Barat.

Dengan menguatkan kehadiran militernya di sepanjang pulau melalui stasiun radar, basis tentara atau baterai rudal Jepang akan lebih memenangkan keuntungan taktis dari China. Pasalnya, China memiliki pulau yang jauh lebih sedikit di wilayahnya sehingga harus menerjunkan lebih banyak kapal angkatan laut dan kendaraan perang laut lainnya.

Pulau sengketa tak berpenghuni di Laut China Selatan ini disebut Senkaku oleh orang Tokyo, sementara warga Beijing menyebutnya Diaoyu. (ama/ama)