PM Israel Menutup Pintu bagi Pengungsi Suriah

Melodya Apriliana/Reuters, CNN Indonesia | Senin, 07/09/2015 16:42 WIB
PM Israel Menutup Pintu bagi Pengungsi Suriah Netanyahu menolak seruan dari pempimpin oposisi agaar Israel menerima pengungsi Suriah, dengan alasan negaranya terlalu kecil. (Reuters/Sebastian Scheiner/Pool)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak seruan pemimpin oposisi Israel untuk menyediakan tempat penampungan bagi pengungsi Suriah, Minggu (6/9). Menurut Bibi, panggilan Nentayahu, negaranya terlalu kecil.

Dilansir dari Reuters, foto-foto ribuan pengungsi yang mengacaukan lalu lintas kereta di Eropa demi mencari tempat berlindung dari konflik Timur Tengah menyentil negara yang didirikan tiga tahun setelah pembantaian Nazi terhadap Yahudi itu.

Pemimpin partai oposisi utama Serikat Zionis, Isaac Herzog, meminta para pemimpin Israel untuk "menyerap pengungsi konflik Suriah", negara tetangga yang dianggap musuh oleh Israel.


Dalam pernyataannya pada rapat kabinet, Netanyahu berujar bahwa Israel "bukannya masa bodoh" terhadap para pengungsi Suriah. Ia pun menekankan rumah sakit di Israel terus merawat korban perang sipilnya hingga kini.

"Namun, negara ini sangat kecil. Kami tak memadai secara geografis maupun demografis," kata pemimpin sayap kanan itu. Menurutnya, membawa masuk pengungsi Arab juga akan mengganggu keseimbangan Israel yang didominasi orang Yahudi. Saat ini, sekitar seperlima dari 8.3 juta populasinya adalah orang Arab.

Meskipun belum ada seruan internasional agar Israel membuka perbatasannya bagi pengungsi Suriah, Herzog berpendapat Netanyahu punya tugas moral untuk menerima mereka.

"Perdana Menteri orang Yahudi tidak akan menutup hati dan gerbangnya saat orang-orang, dengn membawa bayi, berlari menyelamatkan diri mereka dari penganiaya," imbuh Herzog.

Mengutip bahaya yang dihadapi pengungsi Palestina yang telah lama tinggal di kamp-kamp di Suriah, Presiden Palestina Mahmoud Abbas berkata mereka mesti diizinkan masuk ke Tepi Barat yang tengah diduduki Israel, di mana Palestina berkuasa secara terbatas.

Israel berkata, keseluruhan masalah hak kembali bagi pengungsi Palestina akan diselesaikan hanya sebagai bagian dari perjanjian damai akhir. Dialog Israel-Palestina terhenti tahun 2014 lalu.

Saat sesi kabinet, Netanyahu melengkapi pernyataannya tentang pengungsi Suriah dengan mengatakan bahwa ke depan, Israel harus mengamankan perbatasannya dari imigran Afrika dan militan Islam.

Ia juga mengumumkan dimulainya konstruksi pagar baru sepanjang 30 kilometer di perbatasan dengan Yordania, yang menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel pada 1994.

Israel menyelesaikan pagar perbatasannya dengan Mesir sepanjang 230 kilometer di tahun 2013. Mereka berdamai pada 1979. Negara tersebut juga membangun pagar pembatas dengan Lebanon dan Suriah.

Banyak area di Tepi Barat yang terbagi oleh pembatas yang dibangun Israel, sementara Jalur Gaza dikontrol oleh Hamas secara tertutup dibalik tembok dan pagar tinggi. (stu)