Presiden Romania Nilai Kuota Imigran Bukan Solusi

Rizky Sekar Afrisia & Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 08/09/2015 02:50 WIB
Presiden Romania Nilai Kuota Imigran Bukan Solusi Imigran dari negara konflik membanjiri Eropa. (REUTERS/Leonhard Foeger)
Jakarta, CNN Indonesia -- Uni Eropa memberlakukan kuota bagi negara-negara anggotanya untuk menanggulangi masalah banjir imigran belakangan ini. Bagi Romania, kuota itu terlalu berat. Menurut Presiden Klaus Iohannis, Romania hanya mampu menampung 1.785 imigran.

Padahal dalam rencana Uni Eropa, seharusnya Romania bisa menampung sampai 6.351 pengungsi.

"Kami bisa melakukan ini dengan tenang, bertanggung jawab, dan penuh simpati kepada negara dengan jumlah pengungsi yang besar. Tapi saya tidak berpikir kuota wajib itu adalah solusinya," kata Iohannis, Senin (7/9), dikutip Reuters.


Jumlah 1.785 imigran merupakan angka maksimal bagi negaranya, menurut sang presiden. Romania, sebagaimana negara tetangganya, Bulgarian termasuk negara miskin di antara 28 anggota Uni Eropa.

Iohannis menambahkan, imigran tidak begitu saja bisa mendatangi Romania. "Kami bukan bagian dari Schengen, zona bebas paspor Uni Eropa. Imigran harus memenuhi beberapa aturan jika mereka ingin masuk ke Romania," tutur Iohannis menjelaskan.

Romania tak sendiri menolak kuota Uni Eropa. Negara bagian timur Eropa melakukannya, termasuk Hungaria. Polisi sampai menggunakan semprotan merica untuk menghalau keriuhan pengungsi di sana.

Banyaknya pengungsi, terutama dari negara-negara konflik di Timur Tengah, membuat Uni Eropa menetapkan target baru penampungan imigran. Belum lagi ada sekitar 160 ribu pencari suaka yang harus direlokasi dari negara seperti Italia, Yunani, dan Hungaria yang telah menolak menampung mereka.

Tahun ini, jumlah pengungsi yang mencari kehidupan lebih baik ke Eropa semakin membeludak. Mereka terutama mengincar negara-negara sejahtera, seperti Jerman. Negara itu sendiri membuka pintu bagi imigran. Mengutip Reuters, tahun ini Jerman diprediksi menerima sampai 800 ribu imigran.

Inggris tampung lebih banyak imigran

Inggris pun mulai tergerak. Perdana Menteri David Cameron berkata pada Senin (7/9) bahwa negaranya bersedia memasukkan 20 ribu imigran selama lima tahun mendatang. Sejauh ini, Inggris baru menerima 216 pengungsi di bawah skema relokasi PBB. Lima ribu pengungsi mencari "jalan masuk"-nya sendiri.

Menurut survei yang baru dirilis, masyarakat Inggris sebenarnya tidak menghendaki adanya imigran, terutama yang berasal dari negara konflik seperti Suriah dan Libya. Hanya 40 persen publik yang mendukung lebih banyak penampungan.

Sementara 57 persen publik yang disurvei justru ingin Inggris menurunkan jumlah imigran. Mereka menganggap, seharusnya berita utama media pekan lalu yang memasang bocah Suriah di pantai Turki tidak memengaruhi kebijakan soal penampungan. (rsa/rsa)