PM Hungaria: Pengungsi Hanya Mencari 'Kehidupan Ala Jerman'

Melodya Apriliana/Reuters, CNN Indonesia | Senin, 07/09/2015 19:44 WIB
PM Hungaria: Pengungsi Hanya Mencari 'Kehidupan Ala Jerman' Menurut PM Hungaria, Viktor Orban, tujuan para imigran adalah Jerman dan "kehidupan a la Jerman", bukan keamanan fisik. (Reuters/Leonhard Foeger)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban kembali membuat pernyataan kontroversial seputar arus pencari suaka di tanah Eropa, dengan menyatakan para pencari suaka harus disebut sebagai imigran, bukan pengungsi, karena mereka "hanya mencari kehidupan ala Jerman", ketimbang ingin menetap di negara aman pertama yang berhasil mereka capai.

Orban, tokoh populis sayap kanan yang menuai pujian sekaligus kecaman atas caranya mengatasi krisis imigran ini juga berpendapat Uni Eropa harus mempertimbangkan penyediaan bantuan finansial bagi negara-negara yang dekat dengan zona konflik seperti Turki, agar imigran dapat bertahan di negara itu dan tidak angkat kaki.

Pada pertemuan diplomat Hungaria di Budapest, Orban berujar bahwa warga Suriah, Irak, dan lainnya mencapai Eropa melalui Yunani, Masedonia, Serbia atau Hungaria. Negara-negara tersebut relatif aman, dan sesuai dengan aturan Uni Eropa, para imigran seharusnya mengajukan suaka ke negara-negara tersebut/


"Bila mereka ingin melanjutkan perjalanan dari Hungaria, itu bukanlah karena mereka dalam bahaya, tetapi karena mereka menginginkan yang lain," kata Orban, Senin (7/9), dikutip dari Reuters. 

Orban menambahkan bahwa tujuan para imigran adalah Jerman dan "kehidupan a la Jerman", bukan keamanan fisik.

Sejumlah besar imigran yang datang ke Hungaria berniat untuk sampai di Jerman dan negara-negara kaya lain di sebelah barat Eropa. Menurut staf pemerintah, Jerman memperkirakan kedatangan sekitar 2.500 pengungsi hingga Senin siang, menambah sekitar 20 ribu pengungsi yang tiba di Jerman akhir minggu lalu.

Bila tak dicegah, Orban menilai arus imigran ini akan menjadi beban keuangan yang berat bagi Uni Eropa, serta mengancam "negara-negara Kristen yang sejahtera".

Sebelumnya, Orban sempat menuding bahwa para imigran yang sebagian besar Muslim merupakan ancaman bagi budaya dan nilai-nilai Kristen Eropa.

"Ini sungguh konyol. Jerman akan menghabiskan uang untuk menyediakan tempat bagi pengungsi, ketimbang memberikan dana kepada negara-negara di sekitar zona krisis yang pertama kali dicapai oleh para imigran," katanya.

"(Cara) ini akan jauh lebih baik bagi semua pihak. para imigran tidak akan datang ke sini. Cara ini juga akan mengurangi biaya. Dan pendekatan kami tidak akan dipertanyakan secara moral," ujar Orban.

Tsunami imigran ke tanah Eropa beberapa bulan terakhir disebut-sebut sebagai Krisis imigran terburuk di Eropa sejak perang Balkan di era 1990-an. Fenomena ini membuat para pemimpin Eropa menyerukan sistem pembagian penampungan imigran yang adil kepada 28 negara anggota Uni Eropa. Ide ini dilotak oleh Orban.

Sementara Hungaria tetap menjadi negara bebas paspor Uni Eropa 'zona Schengen', diskusi tentang sistem kuota imigranini terlalu dini menurut Orban.

"Selama Eropa tidak mampu melindungi perbatasan eksternalnya, tak masuk akal untuk membicarakan takdir bagi mereka yang datang," katanya, meski tak menampik adanya kemungkinan adanya diskusi kuota yang "adil" di tahap mendatang.

Orban membela rencana paket hukumnya untuk menempatkan tentara di perbatasan selatan Hungaria yang menurutnya, kini terancam "mungkin bukan karena perang, tetapi karena kewalahan."

Ia berharap langkah ini itu akan berhasil "menyegel rapat-rapat" perbatasan, sehingga para imigran hanya dapat menyeberang melalui jalur resmi.

Orban menambahkan undang-undang Hungaria untuk menggunakan tentara dalam membantu melindungi perbatasan akan diimplementasikan setelah 20 September. (ama/ama)