Erdogan Kritik Perlakuan Uni Eropa terhadap Turki

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Sabtu, 17/10/2015 16:32 WIB
Erdogan Kritik Perlakuan Uni Eropa terhadap Turki Menurut Erdogan, Turki menampung pengungsi secara sukarela karena menyadari bahwa stabilitas di Eropa bergantung pada keamanan di negaranya. (Reuters/Murad Sezer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan bahwa tawaran bantuan dana sebesar 3 miliar euro atau sekitar Rp45,5 triliun dari Uni Eropa untuk membendung arus imigran Timur Tengah masih sekadar draf dan belum tentu disetujui.

Seperti dilansir Reuters, tawaran tersebut dilontarkan dalam rapat para pemimpin Uni Eropa di Brussels pada Jumat (16/10). Selain bantuan dana, mereka juga membahas kemungkinan kemudahan pemberian visa bagi warga Turki yang ingin ke Eropa.

Namun, penawaran tersebut tak datang cuma-cuma. Uni Eropa ingin Turki menampung imigran yang hijrah dari Timur Tengah agar tak lagi membanjiri Eropa.


Dalam pernyataannya, Erdogan mengkritik perlakuan Uni Eropa terhadap negaranya. Ia mengatakan bahwa selama beberapa tahun belakangan, Turki sudah melakukan hal tersebut tanpa pamrih, tapi tak ada negara yang peduli.

"Mereka mengumumkan akan menampung 30 ribu hingga 40 ribu pengungsi dan mereka dinominasikan anugerah Nobel karena hal itu. Kami menampung 2,5 juta pengungsi, tapi tak ada orang yang peduli. Sudah berapa lama kami meminta bantuan?" kata Erdogan.

Turki menampung pengungsi secara sukarela, kata Erdogan, karena menyadari bahwa stabilitas di Eropa bergantung pada keamanan di negaranya. Namun, upaya Turki untuk masuk sebagai salah satu negara anggota Uni Eropa selalu terjegal.

"(Sekarang) mereka terus berkata, 'Kami tidak dapat melakukan apapun tanpa Turki.' Itu sangat jelas, tapi mereka tidak jelas. Mengapa Anda tidak membiarkan Turki masuk Uni Eropa?" tutur Erdogan.

Arus imigran sebenarnya juga mulai mengancam keamanan di Turki. Saat pembicaraan Uni Eropa di Brussels berlangsung, seorang pria dalam rombongan pengungsi Afghanistan ditembak oleh polisi penjaga perbatasan saat akan memasuki wilayah Bulgaria di perbatasan dengan Turki pada Kamis (15/10). Ia tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

Menurut Menteri Dalam Negeri Bulgaria, Georgi Kostov, awalnya penjaga perbatasan menahan 50 orang dengan kisaran usia antara 20-30 tahun secara baik-baik di dekat Sredets, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Bulgaria dengan Turki. Namun, para pengungsi mulai ricuh sehingga petugas bertindak.

"Mereka melakukan perlawanan selama penahanan. Salah satu petugas melepaskan tembakan peringatan dan salah satu imigran terluka akibat pantulan peluru dan kemudian meninggal dunia," tutur Kostov.

Juru bicara badan pengungsi PBB (UNHCR), Boris Cheshirkov, mengecam penyalahgunaan kekuatan untuk melawan imigran dan meminta Bulgaria untuk segera menginvestigasi insiden ini secara transparan.
(stu/stu)