Cari MH370, Malaysia Sudah Keluarkan Dana Rp735,4 Miliar

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 02/11/2015 19:27 WIB
Cari MH370, Malaysia Sudah Keluarkan Dana Rp735,4 Miliar Ilustrasi pesawat Malaysian Airlines. (Flightlevel 80)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pencarian pesawat Malaysian Airlines penerbangan MH370 yang menghilang Maret tahun lalu masih terus dilanjutkan. Hingga akhir Oktober ini, Malaysia sudah mengucurkan dana 231,45 juta ringgit atau setara Rp735,4 miliar.

Seperti diberitakan The Malaysian Insider, biaya total operasi pencarian ini belum dapat dipastikan karena pencarian masih terus dilakukan.

Sementara itu, Kementerian Transportasi Malaysia juga telah menggelontorkan dana sekitar 12,87 juta ringgit atau setara Rp40,8 miliar untuk menangani kasus jatuhnya pesawat Malaysian Airlines penerbangan MH17 pada Juli tahun lalu.


Kementerian Transportasi akhirnya melansir data penanganan kedua kasus ini atas permintaan Anggota Parlemen daerah Seputeh dari Partai Aksi Demokrasi (DAP), Teresa Kok.

Selain itu, pihak kementerian juga menjabarkan jumlah kompensasi yang harus dibayarkan kepada kerabat korban sesuai dengan Konvensi Montreal tahun 1999.

Hingga kini, Malaysian Airlines Bhd sudah memberikan dana kompensasi lanjutan (ACP) dan Paket Bantuan Kru (CAP) sekitar US$50 ribu atau setara Rp683 juta bagi anggota keluarga korban sebagai bagian dari kompensasi keseluruhan.

Hingga kini, 236 dan 74 keluarga dari penumpang MH17 dan MH370 sudah mendapatkan dana kompensasi yang mencapai angka total US$16,6 juta atau setara Rp226,7 miliar.

Dua kecelakaan mematikan Malaysian Airlines ini dimulai pada Maret tahun lalu, ketika MH17 hilang tanpa jejak setelah lepas landas dari Malaysia menuju Beijing.

Pada Juli 2014, dunia kembali gempar ketika Malaysian Airlines penerbangan MH17 yang lepas landas dari Belanda menuju Malaysia dikabarkan ditembak jatuh di perbatasan Ukraina dan Rusia. Sebanyak 283 penumpang dan 15 awak kabin tewas.

Menurut data penerbangan, pesawat hilang kontak sekitar 50 kilometer dari perbatasan Rusia dan Ukraina di dekat Torez di Donetsk.

Pertengahan Oktober lalu, Dewan Keamanan Belanda mengumumkan hasil investigasinya terkait insiden ini. Menurut mereka, pesawat tersebut jatuh akibat ditembak rudal Buk buatan Rusia, tapi tak mengungkap pelakunya.

Namun, masih banyak pihak yang menganggap hasil penyelidikan ini tak komperhensif, termasuk Indonesia.

"Proses yang di Belanda itu belum komprehensif sehingga kita masih harus terus melakukan investigasi," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Christiawan Nasir, dalam jumpa pers di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (15/10).

Menurut Tata, demikian Arrmanatha akrab disapa, penyelidikan tersebut seharusnya dilakukan secara transparan, komprehensif, dan independen. Agar penyelidikan tersebut tercapai, pemerintah Indonesia mendukung terbentuknya Tim Investigasi Bersama, besutan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sebagian besar korban dalam penerbangan MH17 memang merupakan warga Belanda. Namun, terdapat pula 12 warga negara Indonesia dalam penerbangan tersebut.

Sementara itu, investigasi kriminal internasional pimpinan Belanda lainnya juga masih berlangsung. Hakim Fred Westerbeke mengatakan bahwa ia tidak akan berhenti sampai pihak yang bertanggung jawab atas kecelakaan MH17 diadili.

Namun, jaksa tidak dapat mengajukan perkara jika institusi peradilannya belum ditetapkan. Pada Juli, Rusia memveto proposal Belanda untuk mengadakan pengadilan internasional di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kini, pemerintah Belanda sedang mencari alternatif lain. (stu)