Seperti diberitakan The Independent, Rob Lawrie, 49, mengaku naluri kebapakannya terketuk saat dia diminta untuk mengantarkan Bahar Ahmadi, gadis kecil asal Suriah, dari kamp pengungsi di Calais ke Leeds untuk diserahkan ke kerabatnya yang tinggal secara resmi di Inggris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lawrie adalah salah satu relawan dari Inggris yang membantu memenuhi kebutuhan para pengungsi di Calais. Ayah empat anak ini mengaku tergerak hatinya setelah melihat mayat Aylan Kurdi, bocah tiga tahun yang terdampar di pantai Turki.
"Foto itu meremukkan hati saya. Saya menutup perusahaan pembersih karpet saya, menjual mobil keluarga dan membeli van. Saya mengumpulkan barang-barang untuk di Calais, seperti pakaian, kantung tidur dan tenda," kata dia.
Bahar tinggal di Calais bersama ayahnya, ibunya hilang entah di mana di Afghanistan. Bahar adalah bocah pertama yang ditemuinya di Calais. Anak perempuan ini menjadi sangat dekat dengan Lawrie, kemana pun dia pergi selalu diikuti.
Mantan tentara yang bertugas selama tujuh tahun di bagian transportasi ini tidak kuasa menolak permintaan ayah Bahar untuk membawa bocah itu ke Leeds.
Sayangnya, dua orang pengungsi dari Eritrea menyelinap masuk ke dalam van yang dia kendarai membawa Bahar. Anjing pelacak mengendus keberadaan dua pengungsi itu dan menangkap Lawrie. Bahar dikembalikan kepada ayahnya di Calais.
"Saya mantan tentara yang berusia 49 tahun. Saya bisa menghadapi apa pun dalam kehidupan. Tapi saya khawatir pada Bahar dan anak-anak seperti dia," ujar Lawrie.
Kerabat Bahar yang hendak dituju Lawrie, Mukhtar Ebrahimi, 22, seorang mahasiswa di Leed Becket University mengatakan, "Dari sudut pandang hukum, apa yang dilakukan Lawrie adalah kejahatan. Tapi melihat kondisi mereka di hutan, mungkin adalah hal yang tepat dilakukan." (stu)