Meski demikian, antusiasme warga seakan tak terbendung.
“Tentu saja memilih,” ujar Tida Swe, 27, pekerja swasta, yang ditemui CNN Indonesia di Pyidaungsu Yeiktha Road, Yangon, Sabtu (7/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antusiasme yang sama juga dikemukakan Suleman, 23, pedangang di sekitar Kyauktada Township, salah satu wilayah wisata populer di Yangon, di mana terdapat tempat ibadah umat Buddha Sule Pagoda, yang bersebelahan dengan Masjid Bengali Sunni Jameh dan Gereja Immanuel Baptist Church.
Selain Tida Swe dan Suleman, tidak banyak warga Myanmar yang bersedia membicarakan pemilu pada masa tenang ini. Sebagian besar warga tunduk terhadap peraturan pemerintah untuk tidak sedikitpun menyinggung pemilu dan partai yang akan mereka pilih.
Tak Nampak Bilik Suara
Tidak seperti di Indonesia, tidak nampak bilik-bilik suara di penjuru Yangon. Sumber dari petugas media center yang bertugas di gedung milik Komisi Pemilu Myanmar menyatakan, sebagian besar bilik suara ditempatkan di sekolah-sekolah.
“Pakai ruangan dari sekolah saja, agar tidak mahal. Lagipula, semua sekolah diliburkan,” kata petugas yang tidak mau dipublikasikan namanya, Sabtu (11/7).
Sumber tersebut menyebutkan terdapat total sekitar 5.500 bilik suara di sekitar Yangon. Warga diminta untuk membubuhkan cap pada partai yang akan dipilih. Pemilu sendiri akan digelar sejak pukul 6 pagi hingga pukul 4 sore.
Atase Politik KBRI Yangon, Hariansyah menyebutkan terdapat empat kertas suara yang harus dicap oleh para pemilih, yaitu untuk Pyithu Hluttaw (majelis rendah), Amyotha (majelis tinggi), perwakilan daerah, dan perwakilan etnis.
Petugas menurunkan atribut-atribut kampanye di Yangon dalam masa tenang pemilu Myanmar. (CNN Indonesia/Amanda Puspita Sari) |
Pemilu ini diharapkan menjadi suatu upaya percepatan dalam memeluk demokrasi bagi negara yang puluhan tahun dikuasai oleh junta militer. (yns)
Petugas menurunkan atribut-atribut kampanye di Yangon dalam masa tenang pemilu Myanmar. (CNN Indonesia/Amanda Puspita Sari)