Jelang KTT Iklim di Paris, China dan India Diselimuti Polusi

Melodya Apriliana/Reuters, CNN Indonesia | Senin, 30/11/2015 19:09 WIB
Jelang KTT Iklim di Paris, China dan India Diselimuti Polusi Ibu kota Beijing berada di bawah status oranye, yakni tingkat polusi tertinggi kedua di China, membuat jalan tol ditutup, sejumlah kerja bangunan tertunda, dan memaksa penduduk agar tetap berada di dalam rumahnya.(Reuters/Kim Kyung-Hoon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika Presiden China, Xi Jinping, dan Perdana Menteri India, Narendra Modi bertolak untuk menghadiri KTT Perubahan Iklim PBB ke-21 (COP21) yang digelar di Paris, Perancis sejak Senin (30/11), mereka meninggalkan negaranya di tengah kepungan asap tebal yang menyesakkan dan berbahaya.

Ibu kota Beijing kini masih berada di bawah status "oranye", yakni tingkat polusi tertinggi kedua di China. Alhasil, jalan tol ditutup, sejumlah kerja bangunan tertunda, dan memaksa penduduk agar tetap berada di dalam rumahnya.

Menurut keterangan Kementerian Perlindungan Lingkungan China pada Minggu (29/11), polusi di negara itu kian tebal akibat cuaca yang "tidak mendukung". Emisi di China utara melonjak selama musim dingin lantaran dinyalakannya sistem pemanasan udara kota. Lemahnya kecepatan angin membuat hasil buangan itu terjebak di atmosfer China.


Sementara itu, stasiun monitor udara milik Kedutaan Besar Amerika Serikat di New Delhi, India, mencatat indeks kualitas udara mencapai 372, yakni polusi di tingkat "berbahaya". Keadaan ini membuat jarak pandang di New Delhi tak lebih dari 180 meter.
Serupa di China, kualitas udara kota berpenduduk 16 juta jiwa itu juga memburuk di musim dingin akibat pembakaran batu bara demi melawan gigil.

Namun angka tersebut masih kalah dahsyat ketimbang indeks kualitas udara sejumlah bagian di kota Beijing yang mencapai 500, tingkat tertinggi yang mampu dicatat. Pemerintah China mewajibkan penduduk untuk berada di dalam ruangan jika tingkat polusi udara berada melebihi angka 300.

Kabut asap itu menjadi tantangan bagi Xi dan Modi dalam memerangi polusi hasil ketergantungan terhadap batu bara, sekaligus mencuatkan pertanyaan akan kemampuan negaranya beralih ke energi bersih pada negosiasi di Paris.

Anak lahir, pohon ditanam

"Insting budaya kami adalah untuk mengambil jalan yang berkelanjutan menuju pembangunan. Ketika seorang anak lahir, kami menanam sebuah pohon." Modi menuliskan sepotong pendapatnya kepada media Financial Times, dikutip dari Reuters. 

"Sejak zaman kuno, kami telah memandang manusia sebagai bagian dari alam, bukan superior terhadapnya," ia menambahkan. "Ide yang berakar dari teks kuno kami ini bertahan di hutan-hutan sakral dan masyarakat sekitarnya di seluruh India."

"Di cuaca seperti ini, Anda bisa lihat bahwa seluruh Beijing tertutup kabut. Setiap pagi, setelah bangun tidur dan menarik napas, tenggorokan akan terasa sangat tidak nyaman," keluh Zhang Heng, seorang arsitek berusia 26 tahun.

Biro Perlindungan Lingkungan Beijing meminta pabrik-pabrik untuk membatasi atau menunda buangan, serta menghentikan kerja bangunan di seluruh kota pada Minggu.

Badan tersebut juga menyebutkan bahwa 23 kota telah terdampak polusi tinggi, dengan luas sebesar 530 ribu kilometer per segi atau setara luas negara Spanyol.

Sementara kantor berita Xinhua melaporkan lebih dari 200 jalan tol di Provinsi Shandong, China timur, ditutup.

Sadar akan polusi yang semakin parah, tahun lalu China meluncurkan "perang lawan polusi" menyusul tebalnya kabut asap di Beijing dan sekitarnya.

Kendati telah berjanji memangkas konsumsi batu bara dan menutup industri penghasil polusi berat, pejabat lingkungan mengakui bahwa nampaknya negara itu belum mampu memenuhi standar kualitas udara yang ditetapkannya sendiri hingga setidaknya tahun 2030.

Mengurangi penggunaan batu bara dan beralih ke energi yang lebih bersih memainkan peran kunci bagi Beijing agar mampu memenuhi janji tersebut. (ama/ama)