Putin Mengaku Dukung Assad dan Kelompok Pemberontak Suriah

Ike Agestu, CNN Indonesia | Selasa, 12/01/2016 12:24 WIB
Putin Mengaku Dukung Assad dan Kelompok Pemberontak Suriah Presiden Rusia, Vladimir Putin, mendukung baik pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan pemberontak anti-Assad selama mereka memerangi ISIS. (Reuters/Alexander Nemenov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rusia mendukung baik pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan pemberontak anti-Assad selama mereka memerangi ISIS. Pernyataan itu dikeluarkan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, kepada media Jerman, Bild, membantah tudingan bahwa Moskow selama ini lebih fokus membela Assad daripada menggempur teroris di Suriah.

“Kami mendukung baik tentara al-Assad dan oposisi bersenjata,” kata Putin. “Beberapa dari mereka telah mendeklarasikan ini secara publik, yang lain tetap diam, namun pekerjaan terus dilakukan.”

Media barat selama ini kerap menuding Putin hanya membela Assad, dan justru menargetkan pemberontak anti-Assad dan bukannya ISIS.


"Mereka berbohong," ujar Putin, dikutip dari RT. "Video yang mendukung versi ini muncul bahkan sebelum pilot kami mulai melancarkan serangan melawan teroris. Ini bisa dibenarkan."

Tak ingin disalahkan, Putin justru mengangkat soal serangan udara yang dilakukan oleh AS ke rumah sakit yang dioperasikan Dokter Lintas Batas di Kunduz, Afghanistan.

“Pilot Amerika mengenai rumah sakit Dokter Lintas Batas di Kunduz, Afghanistan, tak sengaja, saya yakin,” tuturnya. "Media barat mencoba untuk mendiamkan ini, untuk melupakan masalah ini….Mereka menyebutnya beberapa kali lalu meletakknya di atas es."

Namun sebaliknya, kata Putin, video soal pilot Rusia yang seolah menargetkan warga sipil terus beredar.

Ditanya soal tujuan keterlibatan Rusia di Suriah, Putin mengatakan ia tak ingin Suriah mengulang sejarah Libya.

"Saya bisa mengatakan kepada Anda apa yang kami tak ingin terjadi: kami tak ingin skenario Libya atau Irak terulang di Suriah," jelas Putin.

Putin kembali menekankan lagi bahwa Rusia ingin warga Suriah menentukan nasib mereka sendiri, entah Assad tetap bertakhta atau tidak.

Rusia berbeda pendapat dengan kubu serangan udara lain yang dipimpin oleh Amerika Serikat soal nasib Assad. Assad, menurut koalisi AS termasuk negara-negara Arab, harus hengkang dari Suriah, baru rekonsiliasi politik bisa tercapai. (stu)