Cegah Serangan, Polisi Jerman Awasi 400 Orang Terduga Militan

Amanda Puspita Sari/Reuters, CNN Indonesia | Jumat, 15/01/2016 19:34 WIB
Cegah Serangan, Polisi Jerman Awasi 400 Orang Terduga Militan Ilustrasi polisi Jerman (Reuters/Michaela Rehle)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala polisi Jerman memaparkan bahwa jumlah pejuang militan yang sempat berperang ke Irak dan Suriah namun sudah kembali ke Jerman terus meningkat. Kini, pihak kepolisian Jerman mengaku tengah mengawasi sekitar 400 orang yang diduga militan.

Kepala polisi federal BKA, Holger Muench, menyatakan kepada stasiun televisi ARD bahwa jumlah terduga militan yang berangkat dari Jerman menuju Irak dan Suriah mengalami penurunan.

Sebaliknya, jumlah jihadis dari kedua negara itu kembali ke Jerman meningkat dengan signifikan.


"Gelombang keberangkatan [dari Jerman] menjadi berkurang. Sementara itu, kami mengawasi lebih dari 400 individu yang menimbulkan ancaman dan harus kita awasi," ujar Muench.

Muench memaparkan bahwa serangan bom bunuh diri di Istanbul yang terjadi pekan ini dan menyebabkan 10 wisatawan Jerman tewas bukan merupakan tanda bahwa ancaman serangan militan di Jerman lebih tinggi dari sebelumnya.

Pemerintah Turki menduga serangan itu dilakukan oleh pelaku bom bunuh diri dari kelompok militan ISIS yang memasuki Turki dengan menyamar sebagai pengungsi dari Suriah.

Militan tersebut, menurut pemerintah Turki, tidak berada dalam daftar orang yang diawasi karena berpotensi melakukan serangan. Mereka juga tidak secara khusus menargetkan Jerman.

Militan itu meledakkan dirinya sendiri ketika berada di tengah turis pada Selasa (12/1) lalu dekat Masjid Biru dan Aya Sofia, pusat wisata utama kota terpadat di Turki.

Jerman dan Turki merupakan bagian dari koalisi serangan udara internasional pimpinan Amerika Serikat yang menggempur markas ISIS di Irak dan Suriah.

Ditanya apakah Turki akan melakukan serangan udara balasan terhadap ISIS, Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoglu, pada Rabu (13/1) mengatakan bahwa negaranya akan beraksi dalam waktu dan situasi yang tepat.

Turki menuding Presiden Suriah Bashar al-Assad dan sekutunya termasuk Iran dan Rusia, bekerja sama dengan ISIS demi membantu rezim Suriah menghancurkan pasukan kelompok pemberontak dan oposisi Assad.

Turki membuka perbatasannya dengan Suriah selama perang sipil melanda, dan kini menampung lebih dari 2,2 juta pengungsi, yang terbesar di seluruh dunia. Namun perbatasan Turki-Suriah juga digunakan oleh para militan asing yang ingin bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah. (ama/ama)