Saudi Bantah Ada Mediasi dengan Iran

Ike Agestu, CNN Indonesia | Senin, 25/01/2016 15:26 WIB
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, membantah bahwa Pakistan memediasi Saudi dan Iran untuk menyelesaikan perselisihan kedua negara. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, membantah bahwa Pakistan memediasi Saudi dan Iran untuk menyelesaikan perselisihan kedua negara. (Antara/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, membantah bahwa Pakistan memediasi Saudi dan Iran untuk menyelesaikan perselisihan kedua negara.

Al-Jubeir mengatakan hal itu kepada media di sela pertemuan Forum Kerja Sama Arab-India. Ia juga mengungkap bahwa beberapa negara telah menawarkan untuk menjadi mediator antara Riyadh dan Teheran, namun menekankan bahwa Iran mengetahui hal itu dan tidak akan ada mediasi kecuali Iran merespons dengan positif.

Dikutip dari Saudi Gazette, Senin (25/1), selama lebih dari 35 tahun, Iran telah mengadopsi pendekatan bermusuhan dengan negara-negara Arab dengan ikut campur dalam urusan internal mereka, menabur perselisihan sektarian dan mendukung terorisme dan itu dikonfirmasi oleh berbagai bukti kuat, kata al-Jubeir.
Iran juga disebut termasuk dalam negara-negara pendukung kelompok teroris yang terdaftar oleh PBB.


terdapat pula pejabat di badan-badan keamanan Iran yang dicari atas keterlibatan mereka dalam terorisme.

"Iran harus mengubah kebijakan dan metode dalam berurusan dengan tetangganya… dan menahan diri dari campur tangan dalam urusan internal negara lain sehingga jalan akan terbuka untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan negara tetangga," katanya.
Hubungan Iran dan negara Arab terus memburuk terutama terkait konflik di Yaman dan Suriah yang masih berlangsung hingga kini. Di Yaman, Iran dituding mendukung kelompok pemberontak al-Houthi yang merongrong rezim Presiden Rabbu Mansour Abd-Hadi. Di Suriah, Iran dituduh mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad.

Awal Januari lalu, hubungan Saudi-Iran makin memburuk setelah Saudi mengeksekusi ulama Syiah, Nimr al-Nimr. Saudi menilai Nimr merupakan tokoh penggerak kelompok teror, sementara Iran menganggap Nimr sebagai ulama yang vokal menyuarakan penyetaraan hak antara warga Syiah dalam mayoritas Sunni di Saudi. 
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK