Dalam kampanye tersebut, George menyindir gaya retorika kandidat calon presiden rival adiknya dari Partai Republik, Donald Trump, meskipun tak secara langsung. Selama ini, Trump sering kali mengolok Jeb dalam kampanyenya.
"Ini memang masa-masa sulit dan saya tahu warga Amerika marah, tapi kami tidak butuh seseorang di Oval Office (kantor Presiden AS) yang mencerminkan amarah dan frustrasi kami," ujar George seperti dikutip Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kehadiran George dalam kampanye tersebut dianggap dapat sangat membantu adiknya. South Carolina memang merupakan basis Partai Republik pendukung keluarga Bush.
"Saya seorang Bush, bangga atasnya. Saya menyayangi saudara saya. Saya menyayangi ayah saya, ibu saya. Itu adalah bagian dari diri saya," ujar Jeb pekan lalu, dikutip dari CNN. "Ia adalah [anggota partai] Republik terakhir yang menang, ia adalah [anggota partai] Republik yang palin populer."
Ayah Jeb dan George, George H. W. Bush, adalah presiden AS ke-41, memerintah sebelum era Bill Clinton.
Namun, kehadiran George juga disinyalir dapat menjadi batu sandungan bagi Jeb. Pasalnya, saat menjabat sebagai Presiden AS pada 2003, George mengambil keputusan yang dikritik banyak pihak, yaitu melancarkan serangan ke Irak.
Sejak lengser, George sangat jarang terlihat di panggung politik. Namun ternyata, pendukungnya masih merespons pidato George dengan baik.
Selama dua puluh menit berbicara, semua orang berteriak mendukung. Massa tersebut dianggap yang paling banyak sepanjang masa kampanye bagi Jeb.
Kendati demikian, belum diketahui apakah kehadiran George ini akan berpengaruh terhadap hasil pemungutan suara di South Carolina pada Sabtu (20/2) mendatang.
Dalam satu jajak pendapat di South Carolina, Jeb masih menempati urutan keempat di bawah Trump, Ted Cruz, dan Marco Rubio.
"Maaf, World Trade Center jatuh pada masa George Bush, bukan? Gedung itu rubuh. Itu adalah serangan terbesar dalam sejarah Amerika Serikat, lebih parah dari Pearl Habor. Kami merasa tidak aman," ucap Trump.
Tak hanya Bush, Trump juga mempertahankan diri dari Cruz. Ia menuding bahwa Cruz melakukan politik kotor karena melakukan kampanye buruk mengenai sang pebisnis.
Trump juga mengaku ragu Cruz dapat menjadi presiden AS secara legal. Pasalnya, Cruz lahir di Kanada. Menurut konstitusi AS, presiden perserikatan tersebut harus lahir di AS.
"Salah satu cara melawannya adalah dengan menuntutnya," kata Trump. (stu)