TKW Indonesia Saksikan Sendiri Kekejaman ISIS di Suriah

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Rabu, 16/03/2016 18:36 WIB
TKW Indonesia Saksikan Sendiri Kekejaman ISIS di Suriah Ilustrasi (Dok. SITE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sri Rahayu binti Masdin Nur menyaksikan dengan mata kepala sendiri kekejaman ISIS di kota Raqqa, Suriah. TKI asal Indonesia itu terjebak di "ibu kota" ISIS itu, setelah ditipu oleh agen pengirim tenaga kerja yang memindahkannya dari Aleppo.

Awal tahun ini, wanita 39 tahun itu berhasil diselamatkan oleh tim dari Kedutaan Besar RI di Damaskus dari kediaman majikannya, seorang lansia, di Raqqa. Awalnya, Sri telah bekerja selama 2,2 tahun di Aleppo. Saat kontraknya habis, bukannya dipulangkan, dia malah dijual ke Raqqa pada 2013, saat kota itu dikuasai oleh pasukan Free Syrian Army (FSA).
Berdasarkan keterangan dari KBRI Damaskus yang diterima CNN Indonesia, Rabu (16/3), tiga bulan setelah Sri bekerja di rumah Abdul Azim al-Ujaeli, seorang mantan insinyur yang tinggal seorang diri, ISIS menguasai kota itu dan mengklaimnya sebagai ibu kota. Sri mengisahkan ketakutan masyarakat kala kedatangan ISIS.

"Sri Rahayu mengaku mendengar orang-orang berlarian sambil berteriak ketakutan bahwa ISIS memasuki Kota Raqqa dan merebut gudang senjata milik Batalyon 17 Tentara Suriah. Sejak saat itu, ISIS menguasai kota dan bendera hitam menjadi pemandangan lazim di Kota Raqqa," ujar pernyataan KBRI Damaskus.


Selama tinggal di Raqqa, Sri harus memakai cadar setiap kali keluar rumah, termasuk saat membersihkan halaman agar tidak diketahui berasal dari Indonesia.

Melihat kepala terpenggal

Pemandangan mengerikan disaksikannya sendiri di jalan-jalan kota Raqqa. Suatu ketika, wanita yang pernah bekerja selama 20 tahun di Saudi itu hendak berbelanja ke pasar Raqqa.

Dia menyaksikan kepala-kepala yang terpenggal, dijejerkan di pinggir jalan. Sri ketakutan dan lari ke rumah majikannya, urung berbelanja. Eksekusi semacam ini memang kerap dilakukan oleh ISIS di daerah-daerah kekuasaannya.

Sri Rahayu binti Masdin Nur, TKW yang diselamatkan dari ibukota ISIS di Suriah. (dok. Kemlu RI)
Di lain hari, Sri disuruh majikannya untuk membeli rokok secara sembunyi-sembunyi. ISIS mengharamkan konsumsi rokok dan akan menghukum keras para perokok.

Sebelum tiba di tempat penjual rokok, Sri Rahayu dicegat tentara ISIS dan diinterogasi. Dia kemudian diperintah untuk pulang karena tidak didampingi oleh lelaki mahromnya.
"Untung rokok belum di tangan," kata Sri Rahayu kepada tim KBRI Damaskus.

Dia menjelaskan, sejak Raqqah dikuasai ISIS, kebutuhan bahan pokok sangat sulit. Pada bulan Ramadhan tahun 2014, dia terpaksa harus antre dengan menginap di pabrik roti hanya untuk mendapatkan roti.

Menurut Sri, dari logat dan bahasanya, banyak tentara ISIS di kota itu berasal dari Arab Saudi, Tunisia, India dan beberapa orang kulit putih. Namun dia tidak pernah bertemu dengan orang Indonesia.

Bukan anggota ISIS

KBRI Damaskus sempat melakukan pemeriksaan berkali-kali untuk memastikan bahwa Sri bukan anggota ISIS. Sri mengaku membenci ISIS setelah melihat sendiri kekejaman mereka.

Selama bekerja di rumah majikannya, Sri mendapatkan upah dengan baik.
“Selayaknya para TKW lainnya, Sri Rahayu hanya concern tentang gaji dan pulang. Hal ini sekaligus juga menolak asumsi beberapa pihak di Tanah Air bahwa banyak TKI di Suriah banyak yang condong pemikirannya ke ISIS,” ujar AM. Sidqi, Pejabat Konsuler sekaligus Penerangan Sosbud KBRI Damaskus.

Saat ini Sri telah berada di tempat perlindungan di KBRI Damaskus bersama puluhan TKI lainnya untuk persiapan pemulangan ke tanah air. (stu)