Bonino, 56, diduga membunuh para pasiennya yang berusia antara 61 hingga 88 tahun dalam periode Januari 2014 dan September 2015 di sebuah rumah sakit di kota Piombino, Tuscan, menurut konferensi pers polisi pada Kamis (31/3).
Para penyidik meyakini bahwa korban berada dalam kondisi yang serius namun tidak sakit parah. Para korban meninggal akibat diberi dosis obat pengencer dara Eparina dengan dosis yang berlebihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bonino dituduh memberikan obat itu dengan dosis 10 kali lipat dari dosis umum kepada para korbannya, termasuk dalam kasus yang bahkan obat itu tidak diperlukan pasiennya.
Hasilnya, menurut penyidikan polisi, memicu pendarahan interbal yang berujung kepada tewasnya 12 pasien. Satu pasien lainnya meninggal karena serangan jantung.
Penyelidikan ini dilakukan karena tingkat kematian dalam unit untuk pasien yang dirawat melonjak dari 12 persen menjadi 20 persen.
Polisi menangkap Bonino dalam upaya untuk mencegah lebih banyak kematian abnormal.
Meski demikian, koran lokal Il Tirreno menduga otoritas rumah sakit telah mencurigai Bonino sejak awal tahun lalu karena Bonino dipindahkan dari unit perawatan intensif pada Oktober 2015 ke unit yang tidak memiliki kontak dengan pasien.
Depresi
"Kita telah mencapai tingkat baru yang menakutkan dari kesengsaraan manusia," kata Menteri Kesehatan Beatrice Lorenzin. Kasus Benino ini diduga sebagai salah satu kasus pembunuhan berantai terbesar dalam sejarah Italia.
Polisi mengatakan bahwa ibu dengan dua anak dewasa pernah dirawat karena depresi, dan Il Tirreno melaporkan dia juga memiliki masalah obat-obatan dan minuman keras.
Kasus pembunuhan berantai oleh perawat bukan sekali terjadi. Sebelumnya, Daniela Poggiali, mantan perawat berusia 44 tahun menerima hukuman seumur hidup pada awal Maret atas pembunuhan salah satu dari 38 pasien yang diduga dibunuhnya di sebuah rumah sakit di Italia selatan.
Nama Poggiali menjadi terkenal di Italia setelah tersebar fotonya tengah ber-selfie di samping pasien yang barus saja meninggal. Penyidikan menyimpulkan pasien itu tewas karena menerima dosis obat berlebihan. (ama/stu)