Sejumlah media Malaysia, termasuk The Star melaporkan penculikan ini pada Sabtu (2/3). Jika benar aksi penculikan ini dilakukan oleh Abu Sayyaf, maka penculikan ini menyusul aksi penyanderaan 10 ABK WNI yang disandera Abu Sayyaf pada akhir pekan lalu.
Empat sandera Malaysia kemudian dibawa kelompok bersenjata itu dengan speedboat menuju perairan Filipina.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apakah mereka diculik oleh Abu Sayyaf atau dibawa ke Filipina, kami belum dapat mengkonfirmasi," kata Tan.
"Daerah ini luas dan kami memiliki aset kami di sana. Jadi kami sedang menyelidiki apakah [penculikan] tu terjadi di dalam atau di luar perairan kami," katanya.
"Lima ABK lainnya, terdiri dari warga Myanmar dan warga negara Indonesia dibebaskan," kata Abdul melanjutkan.
Hingga saat ini masih simpang siur apakah kapal Malaysia itu berlayar dari Malaysia menuju Filipina atau sebaliknya. Ukuran kapal juga belum diketahui.
Sementara, ABK WNI dan Myanmar kemudian melanjutkan pelayaran ke Tawau.
Pekan ini, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan terdapat dua kapal yang dibajak kelompok Abu Sayyaf, yakni Brahma 12 dan Anand 12 yang membawa 7 ribu ton batu bara. Kapal itu bertolak dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menuju Filipina pada 15 Maret.
Wakil Komandan Pasukan Khusus Zambasulta (Zamboanga-Basilan-Sulu dan Tawi-Tawi), Mayor Jenderal Demy Tejares, mengatakan bahwa kapal itu dibajak di perairan Sulu pada Senin (27/3) malam lalu. Brahma 12 sudah dilepas dan kini berada di tangan otoritas Filipina, sedangkan Anand 12 dan sepuluh awaknya masih disandera.
Pemerintah Indonesia masih menunggu izin dari Filipina terkait upaya penyelamatan sandera. Pasalnya, Indonesia tidak berwenang untuk melakukan penindakan hukum atas aksi kriminal yang terjadi di luar wilayah Indonesia.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bertolak ke Manila pada Jumat (1/4) pagi untuk mengintensifkan kordinasi dan komunikasi dengan Menlu Filipina, Jose Rene D Almendras, dalam upaya pembebasan 10 sandera WNI. (ama)