Laporan dari Malaysia

Mahathir Mohammad dan Memori Indah tentang Soeharto

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 25/04/2016 14:30 WIB
Mahathir Mohammad dan Memori Indah tentang Soeharto Mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengaku kagum dengan mantan presiden RI, Soeharto. (Reuters/Olivia Harris)
Kuala Lumpur, CNN Indonesia -- "Sebelum saya bertemu langsung dengan Presiden Soeharto, saya selalu mengikuti perkembangan dari berbagai kebijakan yang dijalankan oleh pemerintahan beliau. Saya merencanakan apabila nanti diangkat menjadi Perdana Menteri, maka kunjungan luar negeri saya yang pertama kali adalah kepada Presiden Soeharto."

Kutipan tersebut merupakan goresan tangan dari Mahathir Mohamad yang tertera dalam buku Pak Harto, The Untold Stories. Rencana itu akhirnya terwujud ketika Mahathir mengambil alih jabatan Perdana Menteri Malaysia dari tangan Hussein On pada 1981.

Pertemuan pertama itu pun menorehkan kesan mendalam bagi Mahathir. Ia ingat betul bagaimana Soeharto menyambutnya dengan upacara kehormatan hingga diantarkan langsung ke kamar tamu di Istana Negara.


"Saya melihat setiap ucapan dan tindakan yang dilakukan Pak Harto benar-benar menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pemimpin. Walaupun Pak Harto memiliki latar belakang sebagai tentara, ia tidak menunjukkan sikap yang sombong dan kalimat-kalimat yang keras. Bahasanya juga baik sekali," tulis Mahathir.

Kedua pemimpin terlama di masing-masing negara ini pun menjalin hubungan yang dekat. Menurut Mahathir, mereka sudah seperti sahabat. Kepada CNN Indonesia.com awal April lalu, Mahathir pun menuturkan kembali kekagumannya kepada Soeharto.

"Saya biasa dengan dia. Setelah menjadi Perdana Menteri, saya beberapa kali bertemu dengannya. Kita ada perbincangan antara sahabat. Dekat," tutur Mahathir sambil tersenyum.

Matanya menerawang ke arah jendela tempat kerjanya di Putrajaya, Malaysia. Ia mengenang bagaimana ia sangat mengagumi cara Soeharto memimpin dan mengubah Indonesia menjadi negara besar.

"Saya menghormati Bapak Soeharto karena dia mengubah Indonesia dari negara yang mempunyai banyak masalah di zaman Soekarno. Dia dapat menguatkan perpaduan di kalangan banyak suku di Indonesia. Ini bukan suatu negara yang mudah diperintah, tapi setelah Soeharto mengambil alih, Indonesia tidak terpecah," katanya.

Kendati demikian, Mahathir juga tidak menutup mata terhadap adanya berbagai kesalahan dalam masa pemerintahan Soeharto. Namun, ia menganggap itu merupakan hal wajar.

"Ada masalah sedikit di Aceh, tapi umumnya dia berhasil mengganti citra Indonesia menjadi lebih maju. Ya, memang ada hal yang tak benar dilakukan. Di mana-mana pemimpin juga begitu," katanya sambil sesekali mengangguk kemudian melipat tangannya.

Bukan hanya politik

Tak hanya itu, kedekatan antara Soeharto dan Mahathir sebenarnya sudah melampaui urusan politik biasa. Tokoh yang akrab disapa Dr. M ini beberapa kali berkunjung ke Indonesia hanya untuk berjumpa dan bercengkrama dengan Soeharto.

"Saya ingat makan makanan yang disukai oleh Pak Harto adalah gudeg. Di Yogyakarta. Sedap juga," ucapnya sambil menyunggingkan senyum, menegaskan setiap kerut di pria yang sudah menjalani hidup selama sembilan dekade ini.

[Gambas:Video CNN]

Persahabatan mereka terus terjalin hingga akhirnya, Soeharto jatuh sakit. Kondisi Soeharto kian parah dan Mahathir memutuskan untuk melawatnya ke Indonesia.

"Saya pergi melihat dia saat berada di rumah sakit. Sebelum dia terpaksa masuk ke rumah sakit pun, saat sudah tidak menjadi presiden lagi, saya juga melawat Pak Harto," katanya.

Hingga akhirnya pada 27 Januari 2008, Mahathir menerima berita bahwa sahabatnya tersebut meninggal dunia. Ia pun berkemas untuk hadir di upacara pemakaman. Dalam beberapa tayangan, Mahathir terlihat meneteskan air matanya.

Ketika ditanya mengenai tetesan air mata itu, Mahathir hanya tersenyum dan menjawab, "Ya, begitulah."

Kini, Dr. M hanya bisa terus mengenang kekagumannya terhadap sikap tegas Soeharto. Menurutnya, masa kecil seseorang berpengaruh terhadap sikap seseorang.

Pengaruh masa kecil

Sambil menegakkan posisi duduknya, Mahathir lantas menjelaskan bahwa sifat tegas Soeharto jelas merupakan bentukan dari masa kecil, layaknya pengalamannya sendiri.

Lahir di masa penjajahan Inggris, sejak kecil Mahathir terbiasa dengan pemandangan menyedihkan di Malaysia, di mana penduduk pribumi hidup melarat sementara para pendatang memiliki ekonomi kuat.

"Saya melihat kebanyakan orang Melayu miskin dan mereka tidak berpendidikan. Ada banyak lagi kekurangan mereka. Sebaliknya, kaum-kaum lain di Malaysia ini lebih maju," tuturnya.

Mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Mohamad mengaku ingat betul bagaimana Soeharto menyambutnya dengan upacara kehormatan hingga diantarkan langsung ke kamar tamu di Istana Negara. (Reuters/Olivia Harris)
Pengalaman inilah yang nantinya mendorong Mahathir untuk menjadi seorang Perdana Menteri. Namun saat masih kecil, tak terbersit sama sekali di benak Mahathir bahwa ia akan duduk di kursi PM. Pasalnya, Inggris melarang pergerakan politik di Malaysia.

"Masa kecil saya ingin membangun diri saya dengan mendapat pelajaran di tingkat sekolah, setelah itu mungkin bekerja dalam kerajaan. Pada masa itu, tidak ada orang yang memiliki cita-cita besar dalam bidang politik karena tidak ada politik," ucapnya kemudian membetulkan posisi kacamatanya.

Mahathir ingat betul bagaimana ia menempa diri sendiri dengan sangat kuat hingga dapat mengukir prestasi. Semangat itu ia dapatkan dari sang ayah.

"Bapak saya adalah seorang yang menghargai pelajaran. Dia di zaman Inggris sanggup lari ke sekolah, bukan lari dari sekolah karena ibu bapaknya tidak mengizinkan dia pergi ke sekolah Inggris. Takut dia akan jadi Kristen, tapi dia sembunyi-sembunyi pergi ke sekolah karena dia anggap pelajaran itu penting," tutur Mahathir.

Ajaran dari ayahnya itu diseimbangkan dengan tuntunan psikologis dari ibunda. Hingga kini, Mahathir masih memegang teguh ajaran tersebut sebagai panduan dalam bersikap.

Fondasi dari keluarganya itu membangun Mahathir menjadi seorang yang kuat. Tak hanya pikiran, tapi juga fisik.

Di usianya yang senja, Mahathir masih sering berolahraga, sekadar lari-lari kecil, mengangkat barbel, bahkan sesekali melakukan hobinya untuk menunggang kuda.

"Saya ada sekitar 40 ekor. Banyak orang yang memberikan kuda kepada saya. Bukan saya beli. Saya mau membeli dua kuda dari Pakistan. Ketika Presiden Muhammad Zia-ul-Haq dengar saya ingin beli kuda, dia kasih saya dua ekor, saya tak usah membeli," katanya dengan mata berbinar.

Dari 40 ekor kuda itu, ada satu yang paling ia suka. Menurut Mahathir, kuda itu jinak sehingga mudah ditunggangi.

Mahathir merasa bersyukur karena di usia senja, ia masih hidup sehat, dapat berpikir dan bekerja. "Masih kerja, yang penting masih bisa berpikir dan bergerak," katanya.

Bukan sekadar kerja di balik meja, Mahathir pun turun ke jalan. Ia menggalang suara masyarakat Malaysia untuk bersama-sama mengupayakan pelengseran Perdana Menteri Najib Razak melalui satu Deklarasi Rakyat.

"Jika dia tidak lagi memimpin negara ini, besar kemungkinan kita betulkan keadaan. Siapapun yang mengambil alih dapat membetulkan keadaan dan pemulihan ekonomi akan menjadi lebih baik. Kita sudah ada rencana untuk pembangunan Malaysia menjelang 2020. Jika dilaksanakan rencana itu, negara akan maju," katanya menutup perbincangan dengan senyum.