Laporan dari Malaysia

Mahathir: UMNO Dukung Najib karena Dapat Sogokan

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 25/04/2016 12:37 WIB
Mahathir: UMNO Dukung Najib karena Dapat Sogokan Mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Mohamad menuding partai yang berkuasa, UMNO, mendapat sogokan dari PM Najib Razak sehingga terus mendukungnya. (Reuters/Muhammad Hamed)
Kuala Lumpur, CNN Indonesia -- Tak lama setelah Mahathir Mohamad hengkang dari partai berkuasa di Malaysia, UMNO, dua kubu dari institusi itu langsung adu argumen. Pendukungnya mengatakan bahwa Mahathir masih memiliki pengaruh besar, sementara penyokong setia Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, menyanggah pernyataan itu.

Namun, Mahathir sendiri justru menganggap para pendukung Najib masih bertahan di partai itu semata-mata karena ada sogokan dari Najib. Sebenarnya, Najib sendiri sudah tidak memiliki posisi kuat meskipun masih duduk di kursi Ketua UMNO.

“Saya rasa Najib sudah tidak memiliki kekuatan besar di UMNO. Saya rasa tidak. Sekarang ini dukungan kepadanya dipercayai karena ada sogokan uang,” ujar Mahathir kepada CNN Indonesia.com saat ditemui di Putrajaya, Malaysia, pada awal April lalu.


Mahathir lantas membeberkan bahwa sogokan itu bukan lagi rahasia di tubuh UMNO. Bahkan, beberapa kader UMNO sudah mengakui sendiri bahwa mereka menerima sogokan.

“Ada yang mengaku mereka menerima, Shahrir [Abdul Samad] mengaku menerima 1 juta ringgit, dan ada yang mengaku menerima dua juta ringgit dan adik Datuk Sri Najib menyatakan dia menerima 7 juta ringgit untuk dibagikan kepada pemimpin-pemimpin UMNO. Jadi ini sudah jadi perkara yang diketahui umum,” tutur tokoh yang akrab disapa Dr. M ini.

Menelan dedak. Demikian istilah baru yang terkenal di publik Malaysia untuk menunjukkan bahwa mulut pejabat sudah disumpal sehingga tak berani bicara.

Najib Bungkam UMNO

Bahkan dalam setiap pertemuan besar partai, kata Mahathir, para kader tak diperbolehkan membicarakan mengenai skandal lembaga investasi 1MDB. Merujuk pada laporan Wall Street Journal, ada aliran dana sebesar 2,6 miliar ringgit ke akun pribadi Najib dari 1MDB.

Menurut Mahathir, korupsi ini perlahan menggerogoti tubuh UMNO hingga sekarang partai itu sudah tidak utuh. Baginya, UMNO sekarang bukan lagi yang dahulu. Perjuangannya sudah berbeda.

“Itu hanyalah sebuah badan politik yang hanya digunakan untuk mendukung kedudukan Perdana Menteri, Datuk Sri Najib,” tutur Mahathir.

Kehancuran UMNO pun menurut Mahathir sudah ada di depan mata jika Najib terus memimpin. Pasalnya, UMNO kini kekurangan generasi baru pemimpin. Najib bahkan tidak menghendaki adanya pemilihan umum di dalam partai.

“Tidak terlihat banyak bakat dalam UMNO karena sejak beberapa tahun UMNO tidak membenarkan siapapun yang berbakat, yang memiliki pengetahuan dan cakap, mengikuti partai. Mereka tidak diperbolehkan masuk jadi ahli partai. Dengan itu, sekarang ini UMNO mengalami ketandusan pemimpin yang berkaliber,” papar Mahathir.

Akhirnya, beberapa kader kuat partai pun merasa gerah dengan ketandusan UMNO ini. Sebut saja mantan Wakil PM Malaysia, Muhyiddin Yassin; putra Dr. M, Mukhriz Mahathir, dan Anina Saadudin. Namun bedanya, mereka tetap ingin bertahan di dalam UMNO agar dapat memperbaikinya dari dalam.

“Sekarang inipun perpecahan lebih parah. Banyak yang sudah tidak mendukung UMNO lagi. Mungkin mereka ingin mengembalikan ke UMNO baru yang tidak dipimpin oleh Najib,” katanya.

Sambil tersenyum, Mahathir lantas mengenang kembali masa kejayaan UMNO, ketika para ahli partai bebas untuk bersikap, memilih calon pemimpin mana yang mereka dukung.

“Dulu, dalam UMNO, jika ada tantangan-tantangan, maka biasanya diadakan pemilihan. Kami ingin kembali kepada keadaan di mana ahli-ahli bebas memilih siapapun. Pada masa saya dulu, Zahri boleh menantang saya. Dia boleh berkampanye, menarik dukungan dari menteri-menteri saya, akhirnya saya menang hanya beda 40 suara saja,” kata Mahathir.

Namun, Mahathir sendiri sebenarnya masih melihat adanya harapan perbaikan di dalam UMNO. Menurutnya, UMNO akan kembali solid jika Najib sudah tak lagi berkuasa. “Pada saat itu, saya pikir ahli-ahli UMNO akan lebih bebas. Merekalah yang akan menentukan siapa penggantinya,” katanya.

Peneliti politik internasional kajian Asia Tenggara dari LIPI, Adriana Elisabeth, juga mengatakan bahwa jika UMNO ingin bertahan, partai besar itu harus menyiapkan strategi baru.

"Mereka harus menyiapkan pengganti yang pro-demokrasi. Harus menunjukkan gestur menuju politik yang lebih terbuka, bahkan kalau bisa kasus-kasus korupsi diselesaikan. Harus ada indikasi ke arah demokrasi. Jika tidak, UMNO tidak dapat dipertahankan," katanya.

Perpecahan di Pucuk UMNO

Namun, Menteri Pariwisata Malaysia yang juga merupakan kader UMNO, Nazri Aziz, menampik adanya perpecahan di tubuh partai tempatnya bernaung, terlebih lagi hanya karena berita keluarnya Mahathir menggaung.

“Sama sekali tidak ada [isu perpecahan]. Lagipula, waktu dia keluar dari UMNO, tidak ada orang yang keluar secara besar-besaran. Dia tidak ada pengaruh politik di dalam UMNO. Keluarnya dia dari partai UMNO adalah berita yang cukup baik bagi kami. Jika dia di dalam partai, dia diibaratkan sebagai gunting dalam tikar. Lebih baik dia keluar. Sebenarnya tidak ada perpecahan,” ucap Nazri setengah berteriak kepada CNN Indonesia.com saat ditemui di kompleks Parlimen Malaysia awal April lalu.

Menteri Pariwisata Malaysia, Nazri Aziz, memberikan klarifikasi mengenai isu perpecahan dalam partai berkuasa, UMNO, kepada CNN Indonesia.com saat ditemui di Kuala Lumpur pada awal April lalu. (CNN Indonesia/Hanna Azarya Samosir)
Menurut pengamat dari International Islamic University Malaysia, Maszlee Malik, perpecahan memang tak terlalu terlihat di pusat kepemimpinan, tapi di cabang-cabang partai mulai terlihat kekuatan pendukung Mahathir.

"Di peringkat kepimpinan perpecahan tidak ketara. Banyak yang mau jaga posisi sendiri. Namun di peringkat grassroot, di Johor dan Kedah memang pasti. Mahathir mempunyai pengaruh di kalangan ahli-ahli UMNO di lur bandar dan di negeri-negeri seperti Johor, Kedah, Melaka, dan Negri Sembilan," ujar Maszlee kepada CNN Indonesia.com.

Sebelumnya, pengamat politik dari Merdeka Center, Ibrahim Suffian, juga menyatakan bahwa pengunduran diri Mahathir hanya berdampak kecil terhadap internal UMNO dan dapat dinilai sebagai peringatan terhadap Najib.

"Dalam jangka pendek, [pengunduran diri Mahathir] memiliki pengaruh terbatas terhadap UMNO dan penyelesaian masalah yang mereka hadapi dalam upaya mendisiplikan dia [Najib] tanpa merusak citra partai lebih jauh," ujar Ibrahim ketika dihubungi CNN Indonesia.com, Senin (29/2).

Sementara dalam jangka panjang, lanjut Ibrahim, pengunduran diri Mahathir dapat mendorong opini publik untuk lebih kritis terhadap Najib dan pemerintahannya. Hal ini tentu saja akan menyulitkan UMNO untuk memenangkan kembali dukungan publik yang anjlok di tengah perlambatan ekonomi dan berbagai kontroversi.

"Langkah ini menjadi sinyal bahwa dia [Mahathir] membawa masalah ini kepada para pemilih ketimbang para anggota UMNO. Jika dia berhasil, dia dapat memecah suara pemilih Muslim Melayu yang menjadi pendukung terbesar untuk partai berkuasa di Malaysia," ujar Ibrahim.

Ibrahim memaparkan bahwa selama ini dukungan etnis Melayu Muslim di Malaysia sebagian besar terpusat ke UMNO. Dengan demikian, pengunduran diri Mahathir dapat membuat dukungan etnis Melayu terpecah ke partai oposisi.

"Kalau kita lihat, pengaruhnya [pengunduran diri Najib] akan lebih banyak di luar UMNO, yakni di khalayak umum, khusus [etnis] Melayu Muslim. Mereka akan memberi dukungan lebih kepada oposisi," tutur Ibrahim.

Jika menilik kembali sejarah, ini sebenarnya bukan kali pertama Mahathir keluar dari UMNO. Saat ia keluar dari UMNO pada 2008 lalu, UMNO kehilangan 2/3 mayoritas suara di parlemen. Tak peduli dengan kenyataan tersebut, Nazri lantas malah mengkritik prinsip Mahathir dalam berpolitik.

“Dia ibaratkan keluar dari partai ini semacam keluar dari rumah saja. Tidak ada prinsip. Jika pada suatu hari dia bangun, dia tidak suka, dia keluar. Dia menyesal, dia masuk balik. Kalau dia marah, dia keluar. Ini bukan seorang ahli politik yang mantap. Banyak rakyat tidak mengikuti beliau,” katanya.

Mahathir pun tak menutup kemungkinan akan kembali lagi ke UMNO jika Najib akhirnya turun dan partai itu kembali ke karakter semula.

“Ya, jika mereka kembali jadi UMNO biasa, memperjuangkan bangsa, agama, dan negara, jika saya diterima kembali, saya akan coba masuk,” katanya. (ama/ama)