Korut Diduga Siapkan Peluncuran Rudal Jarak Menengah

Elvina Rosita/Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 26/04/2016 17:16 WIB
Korut Diduga Siapkan Peluncuran Rudal Jarak Menengah Korut diduga tengah mempersiapkan uji coba peluncuran rudal balistik jarak menengah, setelah pada pertengahan April lalu peluncuran rudal dinilai gagal. (Reuters/KCNA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, melaporkan bahwa Korea Utara diduga tengah mempersiapkan uji coba peluncuran rudal balistik jarak menengah. Jika benar, maka uji coba rudal kali ini menyusul uji coba sebelumnya yang disebut gagal oleh Amerika Serikat. 

Pada 15 April lalu, Korut gagal meluncurkan rudal Musudan, yang dapat menempuh jarak lebih dari 3.000 kilometer. Dengan jarak tempuh itu, rudal ini disebut-sebut dapat menghancurkan Jepang dan Pulau Guam, yang termasuk dalam kedaulatan AS.

"Ada indikasi bahwa Korea Utara mungkin menembakkan rudal Musudan, namun gagal, pada hari kelahiran Kim Il Sung pada 15 April," menurut laporan Yonhap yang mengutip seorang pejabat pemerintah yang tidak disebutkan namanya.


Rudal Musudan, yang dapat ditembakkan dari sebuah peluncur, hingga saat ini tidak diketahui apakah pernah berhasil diluncurkan atau tidak.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Selatan, Moon Sang Gyun menolak untuk mengkonfirmasi laporan Yonhap, tetapi mengatakan militer Korut kemungkinan akan menghabiskan banyak waktu untuk memperbaiki kesalahan setelah peluncuran Korut yang gagal.

Para pakar menilai uji coba nuklir Musudan merupakan bagian dari upaya Korut untuk mengembangkan rudal balistik antarbenua yang bisa mencapai daratan Amerika Serikat.

Sejak awal tahun, Korut kerap melakukan sejumlah langkah provokatif yang meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea. Pada 6 Januari lalu, Korut menguji coba bom nuklir, dan pada 7 Februari Korut meluncurkan roket jarak jauh yang dinilai melanggar resolusi PBB.

Pada Sabtu (23/4), Korut menguji coba rudal balistik dari kapal selam. Namun, Korea Utara menyatakan uji coba rudal balistik dari kapal selam itu merupakan "sukses besar" yang menjadi salah "satu cara untuk serangan nuklir yang lebih kuat".

Korut dan Korsel secara teknis masih berperang karena Perang Korea periode 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, dan bukan perjanjian damai. Korut, yang merupakan satu-satunya sekutu China, sering mengancam untuk menghancurkan Korsel dan AS.

Peluncuran rudal yang gagal pada 15 April lalu dipandang sebagai pukulan memalukan bagi Kim Jong Un, cucu dari Kim Il Sung, pendiri Korut. Kim Jong Un selama ini mengklaim sejumlah kemajuan teknologi senjata dalam beberapa bulan terakhir, dan berharap melakukan uji coba nuklir kelima secepatnya.

Amerika Serikat dan Korea Selatan sudah memulai pembicaraan tentang kemungkinan penyebaran sistem pertahanan rudal baru, Terminal High Altitude Area Defence (THAAD), setelah Korut kerap meluncurkan uji coba nuklir, roket dan rudal.

Korut kini juga tengah dijatuhi sanksi yang lebih kuat dan luas dari PBB. Sanksi ini bertujuan untuk memblokir dana yang diterima Korut untuk mengelola program senjata nuklirnya.

Sanksi ini telah disetujui dalam pemungutan suara oleh Dewan Keamanan PBB pada awal bulan Maret melalui sebuah rancangan resolusi yang disetujui oleh AS dan China. (ama/ama)