"Api menjalar pukul 23.00 pada Minggu waktu setempat. Tujuh belas anak tewas, dua masih hilang, dan lima lainnya terluka," ujar komandan kepolisian daerah Vingpatao, Prayad Singsin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prayad memastikan bahwa kini api sudah berhasil dipadamkan, tapi penyebab kebakaran masih terus diselidiki. Petugas forensik dijadwalkan tiba pada hari ini, Senin (23/5).
Para orang tua siswa pun datang ke sekolah untuk mencari tahu keadaan anaknya.
"Keadaannya sangat kacau di sini. Kami sedang dalam proses identifikasi jenazah. Belum orang tua yang bisa mengklaim jasad anaknya sekarang," ucap manajer sekolah, Rewat Wassana, kepada CNN.
Sekolah milik yayasan lokal ini merupakan tempat belajar bagi para pelajar perempuan berusia 3-13 tahun. Mayoritas siswa di sekolah itu merupakan anak-anak dari suku miskin di daerah bukit dan pegunungan sekitar.
Suku tradisional dari perbukitan Thailand kerap kali sangat sulit mendapatkan akses sumber daya negara. Mereka sangat sulit mengakses fasilitas sekolah, juga kesehatan dan pembangunan lainnya.
Kemiskinan ini memicu tumbuhnya peredaran narkoba oleh kelompok narkotika yang beroperasi di sepanjang daerah pinggiran atau yang dikenal sebagai "Segitiga Emas" di perbatasan Laos dan Myanmar.
Thailand memang masih memiliki standar kesehatan dann keselamatan yang buruk. Kecelakaan biasa terjadi di sana. (ama)