Dilaporkan Reuters, pernyataan FSA yang dirilis pada Minggu (22/5) itu ditandatangani oleh sekitar 40 kelompok pemberontak lainnya dari berbagai penjuru Suriah. Mereka menyatakan bahwa gencatan senjata dinilai berakhir jika militer Suriah dan sekutunya, pejuang Hizbullah dari Libanon, tidak menghentikan pertempuran dalam waktu dua hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pernyataan bersama itu, sejumlah kelompok pemberontak menyatakan berbagai serangan lanjutan yang diluncurkan militer Suriah di daerah yang dikuasai pemberontak di sekitar Damaskus, Aleppo dan Idlib menimbulkan risiko terhadap upaya perdamaian.
Dalam pernyataan itu, disebutkan bahwa "Brigade pemberontak sedang mempertimbangkan menarik diri dari proses politik yang sia-sia, yang "memberikan cara yang sah bagi rezim kriminal Assad dan sekutunya untuk melanjutkan kejahatan dan pembantaian."
Tentara Suriah sendiri menghentian perpanjangan gencatan senjata pada bulan ini karena menuduh pemberontak melanggar perjanjian ini dengan menembaki daerah pemukiman yang dikuasai pemerintah.
Sepanjang pekan lalu, puluhan warga sipil tewas dalam serangan udara di daerah perumahan di desa dan kota yang dikuasai pemberontak.
Gencatan senjata di Suriah yang ditengahi oleh AS dan Rusia diperkirakan akan segera berakhir karena terjadi pertempuran dan pemboman di Aleppo.
Pertemuan sejumlah menteri luar negeri di Wina pekan lalu gagal menghidupkan kembali gencatan senjata, atau menetapkan tanggal baru untuk memulai kembali perundingan perdamaian Suriah. (ama)