"Prosedur standar operasi [SOP] sudah hampir selesai. Intinya, menurut kesepakatan yang di Yogyakarta itu adalah untuk menjaga keamanan di perairan yang rawan terjadi penyanderaan itu," ujar Arrmanatha saat ditemui di Jakarta, Selasa (28/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pertemuan itu, ketiga negara sepakat untuk mengadakan patroli bersama di perairan Filipina selatan yang kerap menjadi medan penyanderaan itu.
Selain patroli bersama, salah satu kerja sama yang digodok adalah untuk membantu kapal dalam tekanan.
"Misalnya, ada kapal yang mengatakan bahwa mereka dalam keadaan distress atau di bawah ancaman, kapal angkatan laut yang terdekat dapat masuk ke negara terkait untuk membantu, tentunya dengan izin dari negara itu," tutur Arrmanatha.
Arrmanatha mengatakan bahwa pemerintah terus mendorong agar pembicaraan itu cepat selesai sehingga langkah-langkah yang disepakati bisa dijalankan secepatnya di perairan tersebut.
Sebelumnya, Panglima Tentara Negara Indonesia, Gatot Nurmantyo, menjelaskan bahwa penghambat realisasi patroli bersama tersebut adalah transisi pemerintahan yang sedang terjadi di Filipina.
"Pemerintah Filipina akan berganti pada 30 (Juni) dan itu sebenarnya yang membuat tak bisa cepat," kata Gatot saat ditemui di Istana Wakil Presiden, Jumat (24/6). (ama)