Diincar Teroris, Umat Islam Dunia Harus Lepas dari AS & Rusia

Antara, CNN Indonesia | Selasa, 05/07/2016 11:06 WIB
Diincar Teroris, Umat Islam Dunia Harus Lepas dari AS & Rusia Umat Islam yang sedang beribadah di Madinah pun menjadi incaran terorisme. (Reuters/Handout)
Jakarta, CNN Indonesia -- Serangan bom yang membombardir Arab Saudi selama 24 jam belakangan--mulai Qatif, Jeddah, sampai Madinah--dinilai pengamat politik Timur Tengah Dr Yon Machmudi bisa memecah belah umat Islam. Karena itu, umat Islam harus bersatu.

"Jelas secara umum yang menjadi korban adalah umat Islam. Bom bunuh diri yang terjadi di pos keamanan dekat masjid Nabawi, Madinah dan dua bom lainnya di sebuah masjid di Qatif dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Jeddah, merupakan aksi terorisme yang terhubung dengan bom-bom lainnya di dunia Islam, seperti di Turki dan Bangladesh baru-baru ini," katanya, dikutip dari Antara.

Karena targetnya sesama Muslim, sebaiknya umat Islam tidak saling mencurigai atas kejadian itu. Yon sendiri memprediksi tiga aksi pengeboman di Arab Saudi belakangan ini, merupakan ulah ISIS. Sebab, katanya, hanya ISIS yang targetnya luas dan banyak.


Bom pertama terjadi di masjid kelompok Syiah di Qatif. Kedua, bom meledak di Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Jeddah. Ketiga, lanjut peraih gelar doktor dari The Australian National University (ANU) Canberra itu, "Bom di dekat masjid Nabawi menargetkan umat Islam yang mayoritas Sunni."

"Di Madinah pelaku tidak sampai meledakkan diri di tengah keramaian jemaah tetapi di sebuah pos keamanan dekat Masjid Nabawi," ujar Yon lagi. Artinya, ada dua target yang berpotensi menjadi korban: keamanan Arab Saudi dan jemaah masjid.

"Saya kira hanya ISIS yang punya obsesi melakukan teror terhadap AS, aparat negara, dan umat Islam baik Sunni maupun Syiah," Yon mengatakan.

Untuk itu, umat Muslim di seluruh dunia harus bersinergi. "Tentu saja kerja sama ini harus dapat dilakukan secara internal di dalam dunia Islam dengan melepaskan kepentingan-kepentingan AS dan Rusia. Karena, dua negara besar, baik AS dan Rusia, memiliki agenda-agenda lain yang kadang menjadikan dunia saling curiga dan bermusuhan."

Seharusnya, ia melanjutkan, Turki, Arab Saudi, Iran, dan Indonesia bisa duduk bersama membahas masalah-masalah ektremisme dan terorisme.

"Mereka harus melepaskan perbedaan-perbedaan yang ada guna menciptakan perdamaian dan keamanan di dunia Islam," Yon menuturkan. (rsa/rsa)