Para penandatangan petisi tersebut adalah pendukung keanggotaan Inggris di Uni Eropa yang kecewa dengan hasil referendum bulan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Luar Negeri yang mengkoordinasi hasil referendum dengan parlemen membantah adanya peraturan hasil minimum tersebut. Menurut pernyataan Kemlu Inggris, pemerintah telah menegaskan apa pun hasil referendum akan dihargai.
"Sekarang kita harus bersiap untuk proses keluar dari Uni Eropa dan pemerintah berkomitmen memastikan hasil yang terbaik bagi rakyat Inggris," ujar Kemlu, dikutip Reuters , Minggu (10/7).
Dua kandidat perdana menteri yang digadang menggantikan David Cameron juga mengatakan hasil referendum telah final dan tidak perlu dipertanyakan lagi.
"Brexit ya Brexit," kata Theresa May, menteri dalam negeri Inggris dalam pidato saat mengumumkan pencalonan dirinya sebagai perdana menteri Inggris. May adalah pendukung keanggotaan Inggris di UE.
Rivalnya, wakil menteri energi Andrea Leadsom, berada di kubu "keluar" dari UE. Menurut Leadsom, Inggris akan lebih berkembang di luar Uni Eropa.
Banyak masyarakat Inggris yang memiliki "tetap" berada di UE berharap hasil referendum bisa diubah, dan ada spekulasi dari berbagai pengamat internasional yang menyebutkan Brexit tidak akan terealisasi.
Menurut peraturannya, butuh waktu dua tahun sampai Inggris benar-benar keluar dari Uni Eropa. (den)