Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, ada beberapa permintaan pertemuan bilateral dari negara dua kawasan itu. Namun, kini RI sedang mengatur jadwal bilateral dengan lima negara.
Namun, Arrmanatha tak menjabarkan lebih lanjut pokok pembahasan yang akan tersaji di meja pertemuan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Arrmanatha, pertemuan ini sangat penting karena gabungan dari kedua kawasan ini merupakan 60 persen dari penduduk dunia dan merepresentasikan 60 persen perekonomian global.
“ Indonesia melihat perlunya konektivitas yang komprehensif dan inklusif. Tidak hanya infrastruktur, tapi juga ekonomi, perdagagan, investasi, shared values, digital economy, dan people to people contact,” tutur Arrmanatha.
Pertemuan ini akan menghasilkan dua dokumen, yaitu Ulan Bato Declaration dan chairman statement. Deklarasi itu akan berisi kesepakatan penguatan kerja sama ASEM.
“Chairman statement akan berisi rangkuman pembahasan ASEM, mulai dari isu strategis, perubahan iklim, konektivitas, perdagangan, sustainable development, terorisme, dan keadaan dunia,” kata Arrmanatha.
Ditanya apakah Indonesia akan membahas persoalan di Natuna yang melibatkan China serta soal situasi keamanan di wilayah perairan Indonesia-Malaysia-Filipina terkait penculikan WNI oleh militan Abu Sayyaf, Arrmanatha menjawab, "Isu itu tidak jadi agenda karena tema acara lebih ke konsep ASEM ke-20 tahun sehingga ASEM bisa semakin berkembang." (stu/stu)