Trump: Kota Demokrat Lebih Bahaya dari Zona Perang

Amanda Puspita Sari/Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 23/08/2016 20:32 WIB
Trump: Kota Demokrat Lebih Bahaya dari Zona Perang Donald Trump menyebut bahwa kota yang dipimpin oleh pejabat Partai Demokrat lebih berbahaya dari zona perang di Irak dan Afghanistan. (Reuters/Jonathan Drake)
Jakarta, CNN Indonesia -- Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial, kali ini dengan menyebut bahwa kota-kota yang dipimpin oleh pejabat Partai Demokrat lebih berbahaya dari zona perang.

Dalam kampanyenya di Arkon, Ohio, pada Senin (22/8) malam, Trump sebenarnya dijadwalkan untuk membacakan naskah pidato yang sudah dipersiapkan sebelumnya, berisi seruan agar Kementerian Kehakiman AS menunjuk satu jaksa khusus dalam investigasi skandal email rivalnya, mantan menteri luar negeri Hillary Clinton.

Namun pada malam itu, Trump sempat melontarkan pernyataan yang tidak tertulis dalam naskah pidato, yakni bahwa wilayah yang dipimpin oleh pejabat Demokrat lebih bahaya dari Irak dan Afghanistan.


"Anda bisa pergi ke zona perang di negara-negara di mana [tentara AS] ikut bertempur dan tempat itu akan lebih aman ketimbang hidup di sejumlah kota kecil yang dipimpin Demokrat," ujar Trump, dikutip dari The Guardian.

Sang calon presiden dari Partai Republik ini juga berjanji jika ia terpilih sebagai presiden, "Kita akan dapat menumpas kriminal. Anda akan bisa berjalan-jalan tanpa [takut] ditembak. Sekarang, Anda berjalan dan bisa saja kena tembakan. "

Trump tengah berupaya meningkatkan dukungan dari pemilih keturunan Amerika Afrika dalam beberapa hari terakhir. Meski begitu, jajak pendapat Wall Street Journal menunjukkan Trump hanya menerima 1 persen dukungan dari pemilih keturunan Afrika Amerika, dukungan terendah dalam sejarah pencapresan AS.

Untuk meraih dukungan, Trump bahkan berupaya mencerca Clinton, dengan menyatakan, "Clinton fanatik, hanya melihat warga kulit berwarna sebagai pemilih, bukan sebagai manusia yang layak memiliki masa depan yang lebih baik."

Dalam pidato tersebut, Trump juga mengatakan ia "berjuang untuk perubahan rezim yang damai di negara kita" dan memperingatkan bahwa potensi kecurangan dalam pemilu yang sempat ia sampaikan beberapa waktu lalu adalah peringatan serius.

The Guardian melaporkan bahwa penyelidikan lengkap soal penipuan di kalangan pemilih Amerika Serikat menunjukkan hanya terdapat 31 kasus penipuan dari lebih dari 1 miliar kertas suara dalam pemilu di AS sejak tahun 2000.

Trump tengah berupaya meningkatkan popularitasnya yang menurun dalam berbagai jajak pendapat belakangan ini. Pasalnya, sejak konvensi kedua partai Juli lalu, Clinton mendominasi perolehan suara dalam survei, unggul jauh dari Trump.

Meski demikian, Trump masih berkeyakinan akan kemenangan. "Saya hanya merasa kita menang telak," katanya di hadapan para pendukungnya.

Dalam pidatonya, Trump kembali menegaskan kecurigaannya bahwa mantan presiden AS Bill Clinton dan istrinya mantan menteri luar negeri Hillary Clinton mempergunakan lembaga amal Clinton Foundation sebagai sarana para pendonor asing dan domestik mendapat mendapat perlakuan dari Kementerian Luar Negeri selama periode 2009-2013 ketika Clinton menjabat.

Seruan Trump ini juga dilontarkan hanya sehari setelah lembaga pengawas konservatif, Judicial Watch, merilis 725 halaman dokumen Kementerian Luar Negeri AS, termasuk sejumlah dokumen yang dinilai sebagai contoh perlakukan istimewa yang diberikan kepada pendonor atas permintaan mantan eksekutif Clinton Foundation, Douglas Band.

Ratusan dokumen itu dirilis menyusul pengumuman Clinton Foundation untuk tidak lagi menerima sumbangan asing jika Clinton akan terpilih sebagai presiden. (ama/stu)