Serangan dimulai pada Senin dini hari (3/10) di wilayah selatan dan timur Kunduz. Merespons itu, helikopter pemerintah menargetkan militan Taliban dari udara untuk menghentikan serangan.
“Kami sangat lapar dan kami tak punya akses ke makanan saat ini. Kota sepi, toko-toko tutup…Seluruh kota dikepung oleh Taliban,” kata Abdullah, 28, warga Kunduz. “Sejak pagi kami terjebak di dalam rumah kami, kami tidak bisa keluar untuk membeli roti untuk sarapan.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Danish, pasukan pemerintah diterjunkan ke seluruh kota, termasuk dari udara, dan berhasil membebaskan satu distrik dari Taliban.
Sementara itu, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan bahwa pihaknya telah membunuh banyak tentara dan membuat kemajuan.
“Pagi ini, mujahidin kami melancarkan serangan ke Kota Kunduz dari empat arah,” kata Mujahid dalam sebuah pernyataan.
“Kami juga merebut empat pos pemeriksaan penting dari polisi. Kini, mujahidin telah memasuki Seh Darak, Pukhti Maidan dan Speen Zar Chaman di Kunduz. Kami membuat kemajuan besar, beberapa pasukan musuh terbunuh dan terluka, dan sisanya ingin melarikan diri dan kebingungan,” tambahnya.
Data dari PBB menyatakan bahwa pertempuran itu menewaskan 289 orang dan melukai ratusan lainnya.
Serangan udara oleh Amerika Serikat untuk melumpuhkan Taliban ketika itu mengenai sebuah rumah sakit milik Medecins Sans Frontieres (MSF) atau Dokter Lintas Batas pada 3 Oktober, menewaskan 42 orang termasuk pasien dan staf medis.
Di tempat lain, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani akan bertemu dengan pemimpin dunia pada Selasa dan Rabu besok, untuk meminta bantuan finansial guna membangun kembali negaranya hingga 2020. (stu)