Wanita Pemicu Krisis Politik di Korsel Ditahan

Amanda Puspita Sari/Reuters, CNN Indonesia | Selasa, 01/11/2016 08:56 WIB
Wanita Pemicu Krisis Politik di Korsel Ditahan Choi Soon-sil, wanita yang berada di pusat skandal politik di Korea Selatan ditahan atas tuduhan berupaya mempengaruhi urusan negara pada awal pekan ini. (Reuters/Seo Myeong-gon/Yonhap)
Jakarta, CNN Indonesia -- Choi Soon-sil, wanita yang berada di pusat skandal politik di Korea Selatan ditahan atas tuduhan berupaya mempengaruhi urusan negara pada awal pekan ini. Penahanan Choi menyusul pengakuan dari Presiden Park Geun-hye bahwa ia telah membeberkan berbagai dokumen rahasia milik negara kepada Choi.

Choi ditahan pada Senin (31/10), hanya beberapa jam setelah tiba di kantor kejaksaan setempat untuk menjawab pertanyaan seputar
tuduhan bahwa ia menggunakan persahabatannya dengan Presiden Park untuk mempengaruhi urusan negara.

Park sendiri kini tengah menghadapi tuntutan publik untuk segera mundur dan dituding tidak becus mengurus pemerintahan.


Media lokal dan partai oposisi menuduh Choi telah menyalahgunakan hubungannya dengan Park untuk memaksa konglomerat lokal menyumbangkan jutaan dolar untuk dua yayasan yang didirikannya.

Afiliasi CNN di Korsel, JTBC menemukan sebuah komputer bekas Choi yang berisikan berbagai dokumen negara. Selain itu, Choi juga kedapatan ikut campur tangan dalam urusan kenegaraan.

Dilaporkan Reuters, jaksa penuntut mengungkapkan penahanan Choi berdasarkan pertimbangan untuk mencegah Choi melarikan diri ke negara lain atau menghancurkan bukti pembocoran dokumen.

Choi ditahan di fasilitas penahanan darurat tanpa surat perintah di Seoul. Berdasarkan hukum Korea Selatan, tersangka dapat ditahan dalam tahanan darurat tanpa surat perintah hingga 48 jam. Belum ada rincian lebih lanjut soal kondisinya saat ini.

Ketika ia tiba untuk bertemu jaksa pada Senin, Choi telah memohon maaf kepada publik.

Dalam wawancara dengan surat kabar Segye Ilbo Korea Selatan yang diterbitkan pada Kamis (27/10), Choi mengaku dia menerima draf pidato Park setelah ia memenangi pemilu. Meski demikian, Choi membantah ia memiliki akses ke dokumen resmi lainnya. Ia juga menampik tudingan ingin mempengaruhi urusan negara atau mendapatkan keuntungan secara finansial.

Sementara, sejak pekan lalu Park mengaku memberikan draft pidatonya kepada Choi karena ingin meminta pendapat temannya itu. Pengakuan itu memicu aksi protes dari ribuan warga Korea Selatan pada Sabtu (29/10) malam, demi menuntut pengunduran diri Park atas skandal tersebut.

Pada Selasa (1/11) pagi, bus penjara yang membawa Choi tiba di kantor kejaksaan. Wanita ini terlihat dikawal oleh petugas penjara, menurut siaran dari kantor berita Yonhap News TV. (ama)