Israel Tuding Iran Pasok Senjata untuk Hizbullah
Hanna Azarya Samosir | CNN Indonesia
Rabu, 23 Nov 2016 15:25 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Israel menuding Tentara Garda Revolusi Iran (IRGC) menggunakan penerbangan komersial untuk mengirimkan senjata kepada kelompok militan Syiah di Libanon, Hizbullah.
Melalui secarik surat, Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Danny Danon, memberikan informasi kepada Dewan Keamanan bahwa IRGC biasanya menggunakan jasa maskapai Mahan Air dalam melakukan operasi pengiriman senjata ini.
Maskapai tersebut pernah dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat karena memberikan layanan kepada Pasukan Al-Quds yang merupakan unit khusus IRGC dan juga Hizbullah.
Menurut Danon, Pasukan Al-Quds memasukkan paket senjata tersebut ke dalam koper yang kemudian dibawa menggunakan pesawat komersial ke Beirut atau Damaskus, Suriah. Dari sana, paket senjata tersebut dikirim ke Libanon melalui jalur darat.
"Jelas bahwa Iran masih menjadi pemasok senjata utama bagi Hizbullah. Ini jelas melanggar beberapa resolusi DK PBB. Dewan Keamanan harus mengecam Iran dan Hizbullah atas pelanggaran resolusi ini," tulis Danon, seperti dikutip Reuters, Selasa (22/11).
Namun dalam surat tersebut, Danon tidak membeberkan bukti yang menguatkan tudingannya terhadap Iran tersebut.
Meskipun belum terbukti benar, tudingan ini dapat memanaskan kembali perdebatan mengenai perjanjian nuklir antara Iran, Amerika Serikat, dan lima negara lainnya.
Sejumlah negara sepakat untuk mencabut beberapa sanksi mereka atas Iran setelah Teheran menyatakan akan membatasi program nuklir mereka. (has)
Melalui secarik surat, Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Danny Danon, memberikan informasi kepada Dewan Keamanan bahwa IRGC biasanya menggunakan jasa maskapai Mahan Air dalam melakukan operasi pengiriman senjata ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jelas bahwa Iran masih menjadi pemasok senjata utama bagi Hizbullah. Ini jelas melanggar beberapa resolusi DK PBB. Dewan Keamanan harus mengecam Iran dan Hizbullah atas pelanggaran resolusi ini," tulis Danon, seperti dikutip Reuters, Selasa (22/11).
Namun dalam surat tersebut, Danon tidak membeberkan bukti yang menguatkan tudingannya terhadap Iran tersebut.
Meskipun belum terbukti benar, tudingan ini dapat memanaskan kembali perdebatan mengenai perjanjian nuklir antara Iran, Amerika Serikat, dan lima negara lainnya.
Sejumlah negara sepakat untuk mencabut beberapa sanksi mereka atas Iran setelah Teheran menyatakan akan membatasi program nuklir mereka. (has)