Tekanan yang Paksa Merkel 'Lucuti' Cadar Jerman

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Kamis, 08/12/2016 14:39 WIB
Tekanan yang Paksa Merkel 'Lucuti' Cadar Jerman Kanselir Jerman Angela Merkel melarang penggunaan cadar di Jerman. (Reuters/Fabrizio Bensch)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selama 11 tahun menjabat, Kanselir Jerman Angela Merkel biasanya hanya berpidato dengan nada datar soal analisis politik-ekonomi yang pelik. Namun, sang pemimpin Partai Uni Demokratik Kristen kini menunjukkan gestur yang lain.

Selasa malam (6/12), di hadapan 1.000 anggota partainya, Merkel dengan semangat melontarkan sebuah permintaan dengan semangat membara.

"Saya meminta banyak hal, karena waktu telah menuntut kita banyak hal. Saya tahu betul itu. Dan saya tidak bisa menjanjikan tuntutan di masa depan akan lebih ringan, karena kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan," kata Merkel sebagaimana dikutip CNN, Kamis (8/12).

Merkel sedang berada dalam tekanan besar dari para pemilihnya, juga dari partainya sendiri. Alasannya, dia telah membuka pintu lebar-lebar dan menerima 890 ribu pencari suaka masuk ke Jerman pada 2015 lalu.


Semula, ketika Jerman mulai membuka pintu itu, banyak orang mendatangi stasiun kereta api menyambut para pencari suaka dengan meriah. Warga negara setempat bahkan dengan suka cita memberi para pendatang itu bunga atau cokelat.

Namun, seiring waktu berjalan, angka pengungsi terus bertambah dan membebani pekerja sosial. Dewan setempat mengeluh kekurangan tempat tinggal untuk menampung mereka.

Bahkan, di salah satu fasilitas penampungan pencari suaka, para pengungsi terpaksa tidur di atas matras yang digelar di koridor kantor.

Kemudian, terjadilah tragedi jelang pergantian tahun lalu di Cologne. Kepolisian mengatakan sekelompok "orang Afrika Utara dan Timur Tengah" melakukan pelecehan seksual terhadap ratusan perempuan di tengah keributan pesta kembang api.

Minggu ini, tekanan kembali terjadi setelah polisi mengungkap kasus pembunuhan mahasiswa berusia 19 tahun yang juga anak seorang pejabat Uni Eropa. Seorang pencari suaka asal Afghanistan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Secara statistik, memang telah terjadi peningkatan angka kejahatan dalam skala besar dan kecil sejak populasi membengkak, awal tahun ini. Namun, dari angka itu, sebenarnya kurang dari 1 persen kasus kejahatan seksual dan pembunuhan yang terkait dengan imigran atau pengungsi.

Terlepas semua itu, kebanyakan masyarakat tidak lagi mau menerima kedatangan pengungsi. Mereka bahkan mulai memandang para pendatang dengan penuh curiga.

[Gambas:Video CNN]

Kerusuhan antara penduduk lokal dan pendatang juga terjadi di bagian timur Jerman. Serangan pembakaran terhadap titik-titik penampungan pengungsi juga terus terjadi.

Dukungan terhadap partai-partai ekstrem kanan pun meningkat.

Partai Merkel di daerah konstituennya sendiri, Mecklenburg-Vorpommern, dikalahkan oleh partai Alternatif untuk Jerman yang menentang kebijakan penerimaan imigran. Dalam kampanye, partai tersebut berjanji menghentikan aliran imigrasi ke negara tersebut.

Bahkan, sebagian anggota partai Uni Demokratik Kristen pun mulai menilai Merkel tidak bisa mengendalikan mood publik.

Hal ini, bisa jadi, adalah alasan dia membuat konsesi politik besar yang berujung pada kritik keras dari kelompok pelindung hak pengungsi. Merkel menyerukan pelarangan cadar di Jerman, negara yang atas seizinnya, kini menampung ratusan ribu pengungsi Muslim.

Keadaan yang dia alami saat ini dapat dikatakan sebagai penentuan hidup-mati karir politiknya. Pemilu federal Jerman tahun depan akan menarik perhatian seluruh dunia seiring dengan harapan banyak pihak akan perlawanan Merkel melawan serangan populisme yang seakan tak kunjung berhenti.
Dengan komunikasi interpersonal, kita harus menunjukkan wajah kita
Angela Merkel

Ini adalah tugas yang berat bagi Merkel, mengingat tekanan juga datang dari dalam tubuh partainya sendiri.

Merkel mengatakan pada partainya, "Kita tidak mau ada masyarakat paralel dan kita harus menjegalnya di manapun."

"Hukum kita memprioritaskan kode kehormatan, aturan kesukuan dan kekeluargaan, dan juga hukum Syariat. Hal ini harus diekspresikan dengan jelas. Ini juga berarti, dengan komunikasi interpersonal, yang memainkan peran sangat penting dalam hal ini, kita harus menunjukkan wajah kita," kata Merkel.

Dia menyebut penggunaan cadar "tidak pantas" dan harus dilarang di manapun selama dimungkinkan oleh hukum. "Cadar bukan bagian dari negara kita," ujarnya.

Meski hanya sedikit perempuan di Jerman yang menggunakan cadar, cara ini adalah cara mudah bagi Merkel untuk meraih kembali dukungan politiknya. Di akhir pidato, Merkel menerima sambutan meriah dari anggota partainya dengan tepuk tangan yang bergemuruh selama 11 menit.

Dulu, dia dipilih untuk memimpin partai dengan perolehan suara 89 persen. Dia telah menunjukkan bahwa dia bisa memimpin partainya. Dan kini, dia mesti bisa menunjukkan dirinya bisa merebut kembali kepercayaan publik sebelum pemilu tahun depan. (aal/ama)