Serangan pada Rabu (14/12) itu mengancam gencatan senjata yang rencananya mulai diterapkan sejak pukul 04.00 pagi. Padahal, rencana gencatan senjata yang dinegosiasikan Rusia dan Turki sudah berhasil menciptakan ketenangan selama beberapa jam di wilayah kantong pemberontak di Aleppo timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wartawan AFP yang berada di kawasan yang dikuasai pemerintah mengaku mendengar letusan bom pada hari itu.
Berlanjutnya kembali pertemuran ini terjadi menyusul rencana evakuasi ribuan warga sipil dan kelompok pemberontak yang gagal diterapkan. Padahal, evakuasi seharusnya dimulai para Rabu sebelum subuh.
Mengutip Observatory, CNN melaporkan bahwa sejumlah bus terlihat berjejer di sekitar wilayah pemberontak, siap untuk mengevakuasi warga. Namun, hingga dua jam setelah waktu dimulainya evakuasi, tidak ada tanda-tanda pergerakan warga untuk mengungsi.
Belum diketahui alasan evakuasi ini tertunda. Kelompok pemberontak dan sumber yang dekat dengan rezim Suriah menyatakan kepada AFP mereka masih hingga menunggu kondisi menjadi lebih kondusif bagi warga untuk mengungsi.
Kelompok pemberontak kini hanya menguasai area kecil di sebelah timur Aleppo, yang mereka rebut dari pemerintahan Bashar Al-Assad sejak 2012 lalu.
Hingga Selasa (13/12), militer Suriah yang dibantu Rusia dan milisi Syiah dari Iran dan Libanon sudah berhasil merebut 90 persen wilayah yang sebelumnya dikuasai pemberontak. (ama)