Akui Pernah Membunuh, Duterte Terancam Dimakzulkan

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Kamis, 15/12/2016 14:28 WIB
Akui Pernah Membunuh, Duterte Terancam Dimakzulkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte terancam dimakzulkan karena pernyataannya sendiri (Reuters/Kham)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua orang senator Filipina menyebut pernyataan Presiden Rodrigo Duterte yang mengaku pernah membunuh penjahat dapat berujung pada pemakzulan.

Senator Leila de Lima, yang selama ini kerap mengkritik Duterte, mengatakan pengakuan itu bisa menjadi dasar yang cukup untuk menggulirkan upaya memakzulkan sang Presiden.

"Pengakuan itu adalah pengkhianatan kepercayaan publik dan merupakan kejahatan tinggi karena pembunuhan massal jelas masuk ke dalam kejahatan tinggi," kata de Lima sebagaimana dikutip CNN, Kamis (15/12).


Selain de Lima, Senator Richard Gordon yang mengepalai komite keadilan juga mengatakan pengakuan kontroversial Duterte membuka peluang pemakzulan.

"Ketika dia mengatakan hal tersebut, membuka dirinya, maka apa langkah hukumnya, silakan makzulkan dia," kata Gordon kepada wartawan, dikutip dari Reuters. Dia juga mengaku tidak terkejut atas pernyataan tersebut.

Di sisi lain, pendukung Duterte di Kongres menantang oposisi dan pengkritik untuk mengajukan mosi pemakzulan. Mereka percaya diri karena jumlah anggota kongres yang jauh timpang antara koalisi Duterte dan lawan-lawannya.

Sebanyak dua per tiga dari total suara dibutuhkan untuk memakzulkan seorang presiden. Sementara itu, hanya ada kurang dari 50 orang oposisi dari seluruh anggota kongres yang berjumlah 293 orang.

Dalam sebuah acara di depan para pengusaha, Senin lalu, Duterte mengatakan dirinya pernah mengelilingi kota menggunakan motor besar dan mencari penjahat untuk dibunuh, ketika masih menjabat sebagai Wali Kota Davao.

"Saya pernah melakukannya secara pribadi," kata Duterte. "Jika saya bisa, kenapa Anda tidak?"

Lebih dari 5.000 orang telah terbunuh dalam operasi antinarkoba polisi sejak Duterte menjabat pada 30 Juni lalu. Hampir semuanya dilaporkan ditembak ketika menolak untuk ditahan.

Sebanyak 3.000 kematian lainnya masih diselidiki. Ribuan kasus ini diduga dilakukan oleh warga yang bertindak memberantas narkotik di luar hukum. (aal/ama)