800 Warga Turki Protes Keterlibatan Rusia dan Iran di Aleppo

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Jumat, 16/12/2016 13:58 WIB
800 Warga Turki Protes Keterlibatan Rusia dan Iran di Aleppo Setidaknya 800 orang turun ke jalan-jalan di ibu kota Ankara untuk memprotes keterlibatan Rusia dan Iran dalam pengepungan kelompok pemberontak di Aleppo Timur, Suriah. (Reuters/Umit Bektas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setidaknya 800 orang turun ke jalan di ibu kota Turki, Ankara, untuk memprotes keterlibatan Rusia dan Iran dalam pengepungan kelompok pemberontak di Aleppo Timur, Suriah. Demonstrasi ini diluncurkan seiring dengan proses evakuasi ribuan warga sipil dan pemberontak Aleppo keluar dari wilayah yang sebelumnya mereka kuasai.

Ratusan warga meluncurkan aksi protes pada Kamis (15/12) dengan mengusung bendera kelompok oposisi Suriah dan meneriakkan kalimat, "Aleppo adalah kegagalan dunia" di luar kantor Kedutaan Besar Iran sembari menuju kantor Kedubes Rusia.

Para pengunjuk rasa juga mengusung papan bertuliskan, "Pembantaian di Aleppo, panggung sandiwara di PBB," menurut laporan AFP.


Turki selama ini mendukung kelompok pemberontak moderat Suriah untuk menggulingkan rezim Presiden Bashar Al-Assad yang dinilai bertangan besi. Arah kebijakan Turki ini sejalan dengan pemerintahan Presiden petahana Amerika Serikat, Barack Obama.

Meski demikian, sejumlah analis menilai keberhasilan militer Suriah, yang dibantu Rusia dan milisi Syiah dari Iran dan Libanon, merupakan kegagalan kebijakan AS dan sekutunya, termasuk Uni Eropa dan Turki, di Timur Tengah. Turki dan Rusia kemudian menegosiasikan gencatan senjata dan evakuasi warga sipil serta pemberontak dari Aleppo Timur.

Kemarin, Rabu (14/12), lebih dari 1.000 orang juga berkumpul di luar kantor konsulat Iran di Istanbul untuk memprotes peran Republik Islam itu dalam "pembantaian di Aleppo".

Selain itu, aksi unjuk rasa telah digelar di sejumlah kota di Eropa, seiring dengan semakin masifnya pertempuran memperebutkan Aleppo dalam beberapa pekan terakhir.

Pada Rabu malam, polisi Denmark mengungkapkan sekitar 7.000 warga rela menerjang suhu beku untuk memadati jalan-jalan di Kopenhagen demi meluncurkan protes terhadap krisis Suriah.

"Saya di sini, malam ini, untuk menunjukkan saya (solidaritas) dengan warga Aleppo. Dan ini adalah satu-satunya hal yang dapat saya lakukan," ujar Calle Henriques, pengusaha restoran, kepada AFP.

Dua spanduk bertuliskan "Selamatkan Aleppo" dan "Hentikan pembunuhan" digantung di sebuah panggung, di mana beberapa orang berorasi. Di bawah panggung, para pengunjuk rasa mengusung obor tanda turut berduka atas serangan di Aleppo.

Sementara di Paris, ratusan warga berbaris di jalan-jalan utama, dan lampu yang menerangi menara Eiffel dimatikan sementara untuk menunjukkan dukungan bagi rakyat Aleppo.

Ribuan pengunjuk rasa lainnya meluncurkan protes di Sarajevo, kota yang pernah menderita pengepungan terpanjang dalam sejarah zaman modern, ketika pasukan Serbia Bosnia mengelilingi kota ini selama 43 bulan pada perang periode 1992-1995.

Pada Kamis, sebanyak 25 organisasi bantuan kemanusiaan yang berfokus pada Suriah merilis pernyataan mengutuk komunitas internasional karena tinggal diam atas "kekosongan dan kebangkrutan moral" di Aleppo.

Salah satu organisasi itu, Syrian American Medical Society mendesak komunitas internasional untuk "mendorong para pengamat independen (dari PBB atau lembaga lainnya) untuk hadir" dalam upaya evakuasi warga sipil dari Aleppo. (aal)