PM Inggris kepada Trump: Hati-hati Hadapi Putin

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Jumat, 27/01/2017 16:05 WIB
PM Inggris kepada Trump: Hati-hati Hadapi Putin Menurut May, ketegangan antara Barat dan Rusia masih terasa meskipun Perang Dingin telah berakhir. (Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Inggris, Theresa May, memperingatkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk berhati-hati dalam menghadapi Presiden Rusia, Vladimir Putin.

“Berkaitan dengan Presiden Putin, saran saya adalah tetap menjaga hubungan, tapi tetap berhati-hati," ujar May di hadapan forum politik luar negeri dengan sejumlah anggota Kongres AS, di Pennsylvania.

Pernyataan ini dilontarkan menyusul sejumlah langkah militer Rusia, seperti pemindahan rudal nuklir ke dekat perbatasan. Tindakan ini dianggap sebagai ancaman bagi Eropa dan negara Barat lainnya.


"Jika berkaitan dengan Rusia, contoh bijak bisa diambil saat Presiden Ronald Reagan bernegosiasi dengan oposisinya, pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbacev, dengan cara yang tepat, yakni menjalin kepercayaan dengan Soviet, tapi tetap waspada," katanya seperti dikutip The Independent, Kamis (27/1).

Menurut May, ketegangan antara Barat dan Rusia masih terasa meskipun Perang Dingin telah berakhir. Hubungan Barat dengan Rusia kembali tegang pasca-pencaplokan Crimea oleh Moskow dan keterlibatan militer Rusia di dalam Perang Suriah.

"Tidak ada yang bisa mengelak dari konflik Barat dan Rusia. Keadaan seperti Perang Dingin tidak dapat dihindari. Meski begitu, kita harus tetap menjaga hubungan dengan Rusia dengan kedudukan/posisi kuat," katanya.

Komentar May tersebut disebut dapat membuat berang Kremlin. Sebelumnya, Rusia pernah menuding Menteri Luar Negeri Inggris, Borris Johnson, menyulut kembali suasana perang dingin dan membuat perpecahan antara Moskow dan Washington.

Selain memberikan masukan terkait Rusia, dalam kesempatan tersebut May juga mengatakan bahwa Barat harus mulai mengakhiri campur tangannya dalam urusan negara lain.

"Barat tidak boleh mengulangi masa di mana Inggris dan AS melakukan intervensi di negara-negara berdaulat dengan tujuan mengatur dunia sesuai dengan pandangan kita sendiri,” katanya.

Namun, kata May, Barat harus tetap bertindak jika kepentingan negaranya sudah mulai terancam. May pun mendukung Trump untuk memberangus ISIS dan memerangi "upaya agresif Iran memperluas pengaruhnya di Timur Tengah hingga ke wilayah Mediterania."

Namun, May tetap mendukung kesepakatan nuklir Iran yang terancam dibatalkan Trump. Menurut May, kesepakatan Nuklir Iran yang digagas pemerintahan Barack Obama ini layak dipertahankan karena berhasil meredam ambisi Teheran untuk mengembangkan teknologi nuklirnya.

Lawatan May ke AS ini dilakukan dalam rangka menyambut pemerintahan baru di bawah komando Trump. May juga dijadwalkan bertemu dengan presiden AS ke-45 itu hari ini. (has/has)