Markasnya Diserang, Pemimpin Al Qaidah Sebut Trump Bodoh

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Rabu, 08/02/2017 06:53 WIB
Markasnya Diserang, Pemimpin Al Qaidah Sebut Trump Bodoh Qassim al-Rimi mengatakan bahwa serangan ke markas Al Qaidah di Semenanjung Arab (AQAP) itu justru merugikan negara pimpinan Trump itu karena puluhan warga AS juga tewas dan terluka. (AFP Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar sepekan setelah Amerika Serikat menggempur markas Al Qaidah di Yaman, pemimpin kelompok militan tersebut, Qassim al-Rimi, merilis pesan audio yang berisi hujatan bagi Presiden Donald Trump.

"Orang bodoh baru dari Gedung Putih mendapatkan tamparan menyakitkan di wajahnya," ujar al-Rimi dalam rekaman yang diterjemahkan oleh SITE Intelligence Group, sebagaimana dikutip CNN, Selasa (7/2).

Dalam rekaman sepanjang 11 menit itu, al-Rimi kemudian mengatakan bahwa serangan ke markas Al Qaidah di Semenanjung Arab (AQAP) tersebut justru merugikan negara pimpinan Trump itu karena puluhan warga AS juga tewas dan terluka.


Selain 23 warga sipil, termasuk anak-anak, upaya kontra-terorisme bersama AS dan Uni Emirat Arab itu juga menewaskan anggota Angkatan Laut Amerika.

Serangan pada 29 Januari itu juga menewaskan Nawar Anwar al-Awlaki, putri dari mantan pemimpin Al Qaidah, Anwar al-Awlaki. Ayah Nawar merupakan seorang ulama kelahiran AS yang tewas dalam serangan udara pada 2011 silam.

Seorang militer senior AS mengatakan kepada CNN, sebenarnya target serangan itu adalah Rimi. Namun saat serangan dilancarkan, Rimi tidak ada di lokasi.

Ia kemudian berdalih, Rimi bukan satu-satunya target. Meskipun Rimi tak ada di lokasi, mereka memang mengincar lokasi itu untuk mengumpulkan data intelijen.

Kolonel John Thomas dari Komando Pusat AS kemudian menegaskan kembali bahwa operasi itu "bukan misi tingkat tinggi."

Sejumlah pengamat mengatakan, operasi ini memang kurang persiapan. AQAP bahkan dilaporkan sudah mengetahui rencana serangan ini. Mereka pun sudah bersiap hingga terjadi baku tembak hebat antara koalisi dan AQAP.

Serangan ini memang sudah lama direncanakan oleh Barack Obama, tapi tak kunjung terlaksana. Tak lama setelah dilantik, Trump pun langsung memberikan lampu hijau untuk operasi ini.

AQAP merupakan salah satu kelompok teror yang dianggap paling berbahaya. Kelompok ini dilaporkan membantu perencanaan serangan teror di kantor majalah satire Charlie Hebdo pada 2015 lalu. (has/has)