Diberitakan The Guardian, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, membenarkan "kecelakaan" ini. Peskov mengatakan, insiden ini terjadi lantaran minimnya kesepakatan dan koordinasi antara kedua pihak saat menggelar operasi serangan udara gabungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerja sama antar kedua negara ini tak pernah terpikirkan sebelumnya. Pasalnya, hubungan Moskow dan Ankara sempat memanas, bahkan terputus akibat insiden penembakan pesawat tempur angkatan udara Rusia oleh Turki di perbatasan Suriah pada November 2015 silam.
Kecelakaan ini terjadi di saat operasi perlawanan terhadap ISIS ini sedang mengalami kemajuan. Kemajuan ini terjadi bukan hanya karena kerja sama Turki dengan Rusia, tapi juga berkat bantuan kelompok pemberontak Suriah.
Insiden ini terjadi bertepatan dengan kunjungan Direktur Badan Intelijen Pusat AS (CIA), Mike Pompeo, ke Turki.
Di Ankara, Pompeo dijadwalkan bertemu dengan Erdogan dan kepala intelijen Turki, Hakan Fidan, guna membahas Suriah, termasuk rencana operasi merebut kembali Kota Al-Bab dan Raqqa dari tangan ISIS.
Di bawah komando Barack Obama, AS bekerja sama dan membantu pasukan Kurdi dalam menggempur ISIS di Suriah. Kurdi sendiri dianggap sebagai ancaman keamanan bagi Turki. Kini, sejumlah pejabat Turki pun mendesak Pompeo agar tidak membantu militer Kurdi. (has)