Sengsara Perang di Sudan Selatan, Jutaan Orang Mengungsi

Reuters, CNN Indonesia | Senin, 20/02/2017 20:36 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Pertempuran sengit di Sudan Selatan memaksa 1,5 juta orang mengungsi, menyelamatkan diri dari konflik yang tak kunjung mereda sejak Desember 2013 itu.

Pertempuran sengit di Sudan Selatan memaksa 1,5 juta orang mengungsi, menyelamatkan diri dari konflik yang tak kunjung mereda sejak Desember 2013 itu. (Reuters/Siegfried Modola)
Begitu parahnya masalah ini, Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) sampai-sampai mengatakan bahwa Sudan Selatan bisa jadi negara yang menghadapi krisis pengungsi terbesar di Afrika dan ketiga di dunia. (Reuters/Siegfried Modola)
Peningkatan jumlah pengungsi mulai terpantau sejak 2016, ketika perundingan damai antara pasukan oposisi dan pemerintah mandek. Di tahun itu, total 760 ribu pengungsi meninggalkan Sudan Selatan. (Reuters/Siegfried Modola)
Uganda merupakan tujuan utama para pengungsi. Setidaknya 698 ribu orang sudah tiba di negara itu. Sementara itu, 342 ribu pengungsi ditampung di Ethiopia dan puluhan ribu lainnya sudah tiba di beberapa negara tetangga. (Reuters/Siegfried Modola)
Sejumlah pengungsi yang datang menuturkan kisah kelam mereka di Sudan Selatan. Selama perang berkecamuk, mereka menjadi saksi mata penculikan, pemerkosaan, hingga kelaparan akut. (Reuters/Siegfried Modola)
Akibat konflik ini, panen petani terhenti. Sementara itu, inflasi mencapai 800 persen pada tahun lalu, menyebabkan harga impor pangan tak terjangkau. (Reuters/Siegfried Modola)
Dampak perang sipil dan inflasi yang terus meningkat membuat setidaknya 4,9 juta warga Sudan Selatan berisiko terjangkit kelaparan antara Februari hingga April. Jumlah ini akan meningkat menjadi 5,5 juta pada Juli mendatang. (Reuters/Siegfried Modola)
Tak heran, pertempuran antara pemerintah dan pemberontak yang dimulai 15 Desember 2013 lalu ini dikabarkan telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang dan menelantarkan 3 juta warga. (Reuters/Siegfried Modola)