Wabah Meningitis Bunuh 270 Anak di Nigeria

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Kamis, 30/03/2017 05:11 WIB
Wabah Meningitis Bunuh 270 Anak di Nigeria Nigeria diserang wabah meningitis dalam lima bulan terakhir, yang menewaskan 270 orang. (Thinkstock/GreenApple78)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nyaris 270 orang, kebanyakan anak-anak, meninggal dalam lima bulan terakhir, akibat wabah meningitis yang menyerang Nigeria.

“Sejauh ini, kami mencatat 1,828 kasus dan terdapat 269 pasien tewas di 15 negara bagian,” ujar Olubunmi Ojo dari Badan Pengendalian Penyakit Nasional Nigeria kepada media lokal, dikutip AFP, Rabu (29/3).

Negara bagian yang paling parah terserang wabah tersebut adalah Sokoto, Zamfara, Katsina, Kebbi, Niger, dan Federal Capital Territory.


Data yang berhasil dihimpun Kementerian Kesehatan Nigeria menyebut setidaknya terdapat 1,090 kasus dan 154 pasien tewas di enam negara bagian tersebut.

“Zamfara adalah kasus terparah. Meningitis menyerang 590 orang dan 29 diantaranya meninggal,” kata Nasir Sani-Gwarzo, Direktur Pengendalian Penyakit.

Laboratorium telah mengonfirmasi bahwa wabah tersebut disebabkan oleh strain baru yang disebut Tipe C.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa anak-anak usia 5 - 14 tahun merupakan kelompok usia yang paling rentan terkena penyakit tersebut. Rentang usia tersebut juga yang paling banyak tidak tertolong.

Guna mencegah penyebaran lebih jauh, Nigeria telah menggelar aksi vaksinasi massal.

Nigeria sendiri hingga kini masih berada dalam ‘sabuk meningitis’ di Sub-Sahara Afrika, yang terbentang dari Senegal hingga Ethiopia. Di kawasan tersebut, wabah meningitis kerap terjadi.

Adapun, kasus terparah terjadi pada 2015, dimana meningitis menginfeksi lebih dari 13,700 orang dalam kurun waktu enam bulan dan menyebabkan lebih dari 1,100 kematian.

Meningitis disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme, termasuk bakteria, amuba, virus dan jamur. Enam jenis diantaranya, bisa memicu wabah.

Penyakit ini disebarkan melalui batuk dan bersin. Kondisi tempat tinggal yang kumuh dan terlalu padat, seperti yang terjadi di kawasan Sub-Sahara, mempercepat penyebaran wabah.

Meningitis ditandai dengan inflamasi akut di selaput otak dan tulang belakang, yang dibarengi gelaja panas tinggi, sakit kepala serta leher kaku.