Kementerian Pertahanan Korsel menyatakan latihan selama tiga hari ini melibatkan sekitar 800 personel, sejumlah kapal penghancur dan helikopter militer anti-kapal selam. Latihan akan berlangsung di lepas pantai selatan Korsel yang berdekatan dengan Jepang.
"Latihan ini bertujuan untuk memastikan respons yang efektif terhadap ancaman kapal selam Korut, termasuk rudal balistik kapal selam mereka (SLBM). Langkah ini pun menunjukkan tekad yang kuat dari tiga negara," bunyi pernyataan kementerian tersebut, Senin (3/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korut bahkan mengklaim rudal antarbenua dan hulu ledak nuklir mereka mampu mencapai daratan Amerika. Sejauh ini, Pyongyang sudah melakukan lima tes nuklir, dua di antaranya dilakukan tahun lalu.
Pada Februari lalu, Pyonyang menembakkan empat rudal balistik di lepas pantai timur, tiga di antaranya jatuh di wilayah dekat dengan Jepang dan semakin mempertegang suasana.
Agustus lalu, Korut juga dilaporkan berhasil menguji rudal SLBM yang mengudara sejauh 500 kilometer, mendekati daratan Jepang. Percobaan ini menunjukkan peningkatan dari sejumlah uji coba sebelumnya.
Kepala Badan Energi Atom Internasional PBB (IAEA) Yukiya Amano mengatakan fasilitas produksi uranium yang dimiliki Korut telah meningkat dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.
Hal ini, lanjutnya, membawa kapabilitas fasilitas nuklir Korut memasuki fase baru yang lebih membahayakan.
Selain itu, sejumlah pengamat menuturkan, peningkatan program nuklir dan sistem rudal SLBM ini jelas akan menempatkan potensi ancaman Korut pada tahapan baru yang semakin mengkhawatirkan.