"Saya secara hormat meminta Lasso meninggalkan Ekuador dalam waktu 30 hari (dengan atau tanpa jutaan uang di negara surga pajaknya)," kicau Assange melalui akun Twitternya, Senin (3/4).
Pernyataan itu merujuk pada dugaan bahwa eks bankir itu terkait dalam skandal surga pajak Panama Papers yang sempat menggegerkan dunia pertengahan 2016 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, Lasso mengutarakan niatnya mengusir Assange dari Kedutaan Besar Ekuador di Inggris, tempat pengasingan pria berusia 45 tahun itu sejak empat setengah tahun lalu, jika dirinya memenangi pemilu.
[Gambas:Twitter]
Menurut Lasso, sudah saatnya pemrogram komputer asal Negeri Kanguru itu untuk "angkat kaki" dari kantor perwakilan negaranya, lantaran biaya suaka Assange yang selama ini ditanggung pemerintah Ekuador tidak murah dan tak dapat lagi diteruskan.
Assange tinggal di kedutaan yang terletak di Knightsbridge, London, sejak 2012 lalu, menghindari upaya ekstradisi ke Swedia.
Jika Assange diekstradisi, ia harus menghadapi tuntutan dugaan pelecehan seksual.
Pemerintah Ekuador selama ini mempertahankan Assange sebagai bentuk solidaritas.
Assange telah lama menjadi incaran Washington lantaran merilis ribuan dokumen militer dan diplomatik AS yang didapat WikiLeaks dari Manning.
Salah satunya kasus pembocoran 500 dokumen rahasia militer AS oleh WikiLeaks terkait perang di Afghanistan dan Irak beberapa waktu lalu.
Menanggapi hasil pemilu, Assange turut mengucapkan selamat kepada politikus sayap kiri Lenin Moreno yang digadang akan menjadi penerus Presiden Rafael Correa.
Tak puas dengan hasil pemilu, Lasso mendesak komisi pemilu melakukan penghitungan ulang suara. Dia menduga ada kecurangan dalam rekapitulasi suara yang dinilainya dilakukan begitu cepat.
Sebab, proses rekapitulasi suara pemilu di putaran pertama, komisi membutuhkan waktu beberapa hari menghitung secara keseluruhan suara yang terkumpul.