Teror di Rusia: ISIS atau Separatis Chechnya

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Selasa, 04/04/2017 11:20 WIB
Teror di Rusia: ISIS atau Separatis Chechnya Analis menduga ada dua kelompok yang mungkin bertanggung jawab atas serangan di Saint Petersburg. (Foto: REUTERS/Anton Vaganov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Teror kembali menggemparkan Eropa. Setelah mobil secara serampangan menabrak pejalan kaki di Jembatan Westmister, jantung Kota London pada akhir Maret lalu, kini ledakan bom mengguncang Saint Petersburg, Rusia.

Pada Senin (3/4), sekitar 14.30 waktu setempat, ledakan ganda di sebuah gerbong kereta bawah tanah di stasiun Sennaya Ploshchad, menewaskan setidaknya 11 orang dan melukai puluhan lainnya.

Hingga kini otoritas Rusia belum mengetahui siapa dalang di balik insiden yang dianggap Presiden Vladimir Putin sebagai "tindakan kriminal teroris" itu. Meski belum jelas, ada dua kelompok yang dianggap sejumlah pengamat memiliki kapabilitas melakukan serangan tersebut: kelompok separatis Chechnya atau ISIS.
Peter Bergen, pakar keamanan nasional CNN, dan David Sterman, analis kebijakan di New America's International Security Program, menyoroti banyaknya serangan teror yang dilakukan separatis Chechnya selama ini.


Rusia sudah lama berperang dengan kelompok separatis ini sejak abad ke-19 dan kebencian terhadap Rusia itu dinilai masih melekat erat di benak mereka.

"Tak ada yang bicara tentang kebencian terhadap Rusia. Yang dirasakan warga Chechnya kepada Rusia, baik orang tua maupun muda, lebih kuat dari pada rasa benci," tulis kedua analis itu, mengutip penulis Leo Tolstoy dalam 'The Cossacks'.

Pada 2002, militan Chechnya menyerang sebuah teater di Moskow. Mereka menyandera ratusan orang yang tengah mengunjungi gedung kesenian itu dan menewaskan setidaknya 130 orang. Dua tahun kemudian, separatis itu kembali beraksi, membombardir sebuah stasiun bawah tanah di Moskow dan menewaskan sedikitnya 39 orang.

Di tahun yang sama, kelompok separatis Chechnya menculik ratusan pelajar di sebuah sekolah di Beslan. Kremlin terpaksa menggunakan tank untuk membebaskan para sandera yang telah disekap selama berhari-hari itu. Insiden itu memakan korban jiwa setidaknya 300 orang.
Tak berhenti, pada 2009, militan Chechnya bersama Caucasus Emirate--kelompok radikal Islam yang dipimpin Doku Umarov, meluncurkan serangan bom bunuh diri di sebuah kereta berkecepatan tinggi yang menghubungkan St Petersburg dan Moskow.

Kelompok binaan Umarov itu pun mengklaim sebagai otak dibalik serangan di Bandara Domodedovo, Moskow, yang menewaskan 37 orang pada 2011 lalu.

Dalam artikel The Likely Culprits Behind The St. Petersburg Bombing, Bergen dan Sterman juga menilai ISIS berpeluang besar melakukan serangan teror terbaru di Rusia ini.

"Belakangan ISIS telah melakukan serangkaian serangan teror terhadap Rusia. ISIS membenci mereka atas dukungannya terhadap diktator Suriah Bashar al-Assad, jadi sudah tidak jadi kejutan jika ISIS mulai mengincar RUsia pada 2015, ketika mereka mulai mengintervensi perang sipil Suriah," kata mereka.

Kelompok teroris yang dipimpin Abu Bakr Al-Baghdadi di Irak dan Suriah ini tak usah diragukan lagi dalam soal aksi teror. Mereka mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan teror di berbagai penjuru dunia, meski tidak semuanya dapat dibuktikan secara langsung.
[Gambas:Video CNN]
Sekitar Juni 2015, ISIS mendeklarasikan pembentukan "sebuah provinsi" di wilayah Kaukasus Rusia, memicu kekhawatiran potensi menguatnya terorisme dan radikalisme di wilayah itu. Sekitar

September 2015, ISIS mengklaim serangan teror pertama mereka di Rusia yang mengincar barak militer di Dagestan selatan.

Tiga bulan kemudian, ISIS pun mengaku bertanggung jawab atas serangan teror yang dilakukan seorang pria bersenjata di situs budaya Benteng Derbent di Dagestan. Insiden itu menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya.

ISIS juga mengisyaratkan dengan jelas bahwa mereka merencanakan serangan di sejumlah kota utama di Rusia seperti Moskow dan St Petersburg.

Sekitar akhir Oktober 2015, ISIS meledakan pesawat Rusia yang membawa ratusan penumpang dalam perjalan pulang dari Sinai, Mesir menuju St Petersburg. Insiden itu menewaskan 224 orang.

Pada Februari 2016, ISIS kembali meluncurkan aksi bom bunuh diri di sebuah pos pemeriksaan di Dagestan. Satu bulan kemudian, kelompok itu juga melakukan dua serangan lain yang mengincar militer Rusia di sana.
Sekitar 5.000-7.000 orang yang berasal dari Rusia dan negara bekas Soviet lain dilaporkan telah bertolak ke Suriah dan Iraq untuk berbaiat pada ISIS.

Hal ini diperburuk dengan kemunduran ISIS yang belakangan terus ditekan serangan koalisi Suriah dan Amerika Serikat di Timur Tengah. Di tengah kekalahan ISIS, sejumlah pejuang ISIS diindikasikan mencoba kembali ke Rusia dan negara-negara lain tempat mereka berasal.

Fenomena ini turut meningkatkan kekhawatiran pemerintah Rusia akan penyebaran ajaran radikalisme di negeri sendiri, ketika para mantan pejuang ISIS sudah sampai di tanah air.